Saturday, 26 November 2016

Current hobby

Me is back!

I started to realize that I am fond of things related to historical romance, the british one in particular. Last year, I read Pride & Prejudice by Jane Austen (all hail Austen!) in Indonesian. I love it but that's it. It all began when I stumbled upon great stories at Wattpad! I found that app fascinating because it provided LOTS of amazing stories and all free! YAs I love free things. 

Since english is not my mother tongue, I sometimes find it difficult to decipher some words in a story. The classic one to be specific. But that's not a big deal since I take it as a part of learning. Learning new language is always mesmerizing, isn't it? 

I would love to recommend Regency Series by @litttleLo (you can check it out by clicking her profile here). Laura is a great writer I must admit it. I still have tons of historical fiction stories in my wattpad library tho :p

And for the 'proper' story, Pride and Prejudice by Jane Austen. I am still improving my english so I can read other Austen's masterpiece such as Persuasion (I heard that it's good as well). I like stories set in victorian era. Do you have any recommendation? 

Besides, I currently like to watch period-drama. I have watched Pride and Prejudice, Becoming Jane, and The Young Victorian. Here I'd love to recommend some movies;

1. Pride and Prejudice (2005)
    aren't we all?
 How I love this movie! The Bennet sisters and their mother though. One thing that this movie didn't live up my expectation that Jane Bennet should've been more beautiful! She looks rather old here in my opinion. Therefore, Keira Knightley had managed to represent Libby quite well. What I love most is the ending, you should go watch it.  
        
    2. Becoming Jane (2007)
(deep sigh)
This is a biographical movie of Jane Austen. We all know that she herself stayed unmarried until her death, along with her sister, don't we? Yet she managed to write things that perhaps she'd dreamed of. She deserved more than that. Mayhap if she'd agreed to their elopement, Pride & Prejudice shall never born. Tis taught us that there's so much things in life to pursue and love is the least in the list. So much things. 

3. The Young Victoria (2009)

BEAUTIFUL. Period.
This movie is beautiful. It persuades me to learn about history of england (thus I'm considering to take english literature as my major later but idkkk really). Above is the scene when she proposed to Albert. YASH. SHE proposed. Queen does. I wish I were a queen lol. And they must love each other very much to have nine children. NINE for godheaven's sake. And thus I know that male does not inherit title from female (which makes Albert not a king, yes I was a dumb lol). 

Sooo that's it! I am in the middle of final exam. I know nothing of accounting and I must study now so I can get good grades. Wish me luck fellas!

Tuesday, 20 September 2016

Wadu~

Saya ndak menyangka lho statistik visitor blog ini cukup fluktuatif. Maka itu, saya meminta maaf atas kelancangan saya yang vakum seenaknya sendiri. Kehidupan yang sebenarnya (ada kok yang palsu) ((hm apa ya)) cukup sibuque sehingga tidak ada bahan untuk diposting. Tapi saya selalu active di tumblr ko~ urlnya apa? Rahasyiya~~ Doakan saya yah yang besoque UTS. Bhay!

Reorganisasi MPK, akhirnya purna tugas~~ Lengkap dengan signature pose masing-masing angkatan. Sukses!

Tuesday, 29 March 2016

[Review] Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dirgantara
Tebal: 270 halaman
Tahun Terbit: 2003
Rating (By Ajeng): 4/5

"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini."
"Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti."

Gadis Pantai yang masih berumur 14 tahun dibawa ke kota untuk dikawinkan dengan Bendoro di kota, meninggalkan kampung nelayan, meninggalkan emak dan bapak, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang membuat tangannya kasar.

Tidak ada perayaan atas perkawinannya, tidak ada pesta barang sekecil pun. Gadis pantai hanyalah budak sahaya yang dikawinkan dengan priyayi. Dikawinkan dengan bendoro, tidak lantas serta-merta menjadi nyonya bendoro. Bendoro akan dianggap masih bujang apabila ia belum beristri seorang priyayi seperti statusnya.

Beruntung Gadis Pantai memiliki seorang pelayan tua yang sehari-hari bersedia untuk mendongengi Gadis Pantai. Naas, sebuah kejadian membuat si Mbok, pelayan Gadis Pantai, didepak dari kediaman bendoro, berhenti melayani Gadis Pantai. Gadis Pantai belajar banyak dari si Mbok, dari dongeng-dongeng dan cerita hidup yang tiap saat dilantunkan si Mbok.

Dikelilingi dinding-dinding di kediaman bendoro, Gadis Pantai merasa kesepian. Ia rindu dengan emak, bapak, dan kampungnya. Ia rindu kesederhanaan yang lebih pantas disebut kemiskinan di kampung nelayan. Ia rindu deburan ombak yang mengantarkan perahu bapak melaut.

***
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang dihina-hina. 
***
Sebuah roman unfinished karya Pramoedya Ananta Toer, mengupas mengenai kehidupan pelik seorang sahaya, serta kemewahan yang hanya dapat dicecap oleh kaum priyayi. Tiadalah arti disandingkan dengan seorang priyayi jikalau hanya seorang sahaya, tidak lebih.

Sangat disayangkan karena sebetulnya roman ini merupakan trilogi. Dua buku lanjutan Gadis Pantai aib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara. Bahkan Gadis Pantai tidak akan sampai ke tangan para pembaca jika pihak Universitas Nasional Australia di Canberra tidak mendokumentasikannya lewat mahasiswa yang mengambil tesis seputar proses kepengarangan Pramoedya di tengah golak budaya dan kuasa.

Roman yang menyinggung feodalisme Jawa ini membuka mata saya. Orang biasa pada zaman dahulu adalah sama dengan budak. Membaca ini, membuat saya berandai-andai, siapakah saya bila hidup pada masa kolonialisme? Apakah saya juga menjadi korban kekejaman Daendels?

4/5 untuk buku yang membuat saya merinding. Nasib tidak mengantarkan Gadis Pantai kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Takdir manusia siapa yang tahu.

***
"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...
Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi...
Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang
berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan."
                                               —Pramoedya Ananta Toer