Tuesday, 29 March 2016

[Review] Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dirgantara
Tebal: 270 halaman
Tahun Terbit: 2003
Rating (By Ajeng): 4/5

"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini."
"Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti."

Gadis Pantai yang masih berumur 14 tahun dibawa ke kota untuk dikawinkan dengan Bendoro di kota, meninggalkan kampung nelayan, meninggalkan emak dan bapak, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang membuat tangannya kasar.

Tidak ada perayaan atas perkawinannya, tidak ada pesta barang sekecil pun. Gadis pantai hanyalah budak sahaya yang dikawinkan dengan priyayi. Dikawinkan dengan bendoro, tidak lantas serta-merta menjadi nyonya bendoro. Bendoro akan dianggap masih bujang apabila ia belum beristri seorang priyayi seperti statusnya.

Beruntung Gadis Pantai memiliki seorang pelayan tua yang sehari-hari bersedia untuk mendongengi Gadis Pantai. Naas, sebuah kejadian membuat si Mbok, pelayan Gadis Pantai, didepak dari kediaman bendoro, berhenti melayani Gadis Pantai. Gadis Pantai belajar banyak dari si Mbok, dari dongeng-dongeng dan cerita hidup yang tiap saat dilantunkan si Mbok.

Dikelilingi dinding-dinding di kediaman bendoro, Gadis Pantai merasa kesepian. Ia rindu dengan emak, bapak, dan kampungnya. Ia rindu kesederhanaan yang lebih pantas disebut kemiskinan di kampung nelayan. Ia rindu deburan ombak yang mengantarkan perahu bapak melaut.

***
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang dihina-hina. 
***
Sebuah roman unfinished karya Pramoedya Ananta Toer, mengupas mengenai kehidupan pelik seorang sahaya, serta kemewahan yang hanya dapat dicecap oleh kaum priyayi. Tiadalah arti disandingkan dengan seorang priyayi jikalau hanya seorang sahaya, tidak lebih.

Sangat disayangkan karena sebetulnya roman ini merupakan trilogi. Dua buku lanjutan Gadis Pantai aib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara. Bahkan Gadis Pantai tidak akan sampai ke tangan para pembaca jika pihak Universitas Nasional Australia di Canberra tidak mendokumentasikannya lewat mahasiswa yang mengambil tesis seputar proses kepengarangan Pramoedya di tengah golak budaya dan kuasa.

Roman yang menyinggung feodalisme Jawa ini membuka mata saya. Orang biasa pada zaman dahulu adalah sama dengan budak. Membaca ini, membuat saya berandai-andai, siapakah saya bila hidup pada masa kolonialisme? Apakah saya juga menjadi korban kekejaman Daendels?

4/5 untuk buku yang membuat saya merinding. Nasib tidak mengantarkan Gadis Pantai kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Takdir manusia siapa yang tahu.

***
"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...
Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi...
Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang
berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan."
                                               —Pramoedya Ananta Toer

Monday, 21 March 2016

[Review] Bubble Love - Fei & Lia Indra Andriana


Penulis: Fei & Lia Indra Andriana
Penerbit: Sheila
Tebal: 158 halaman
Tahun terbit: 2011
Rating (By Ajeng) : 2.5/5

Vivian membenci dirinya yang lama, ia merasa terlalu mudah dibodohi. Oleh karenanya, ia mengubah penampilannya menjadi gadis yang lebih liar. Ini semua gara-gara Seon-ho, pria berkewarganegaraan Korea yang memutuskannya beberapa waktu lalu. Vivian pun bertambah geram ketika mengetahui Seon-ho justru berpacaran dengan anak SMA setelah putus dengannya.

Tak mau berlarut-larut, Vivian mencoba untuk move on dengan menjalani kencan dengan Andros Riviera, playboy dari segala playboy. Biarpun playboy, Vivian tidak mau melewatkan kesempatan ini. Andros adalah pria yang layak dipertimbangkan, pria ideal yang juga adalah pewaris salah satu top ten company di negeri ini. 

Hubungannya dengan Andros menyebabkan keretakan pada persahabatan Vivian dan Sinae. Pasalnya, Sinae yang lebih dulu tahu mengenai Andros, namun justru Vivian yang duluan mendapatkannya. Sinae tentu saja terbakar api cemburu. 

Sementara itu, Seon-ho yang berencana untuk mengikuti wajib militer tahun ini semakin uring-uringan karena dirinya terus saja teringat akan Vivian. Seon-ho semakin tidak rela meninggalkan Indonesia.



***
Aloha! Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, saya berhasil membuat 2 postingan review! Yeay. 

Well, saya jujur saja memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku ini, sekitar satu minggu mungkin. Padahal jumlah halamannya kurang dari 200, phew. Saya memutuskan untuk membaca buku ini karena penulisnya, saya suka sekali novel Bi! (Fei) dan juga novel-novel Lia Indra. Tapi sayangnya, yang ini kok tidak sesuai ekspektasi saya, ya? T.T

Ada yang sepikiran sama saya tidak ya, kalau covernya gloomy banget? Wkwkwk. By the way, saya sebel sama Andros yang mengatakan bahwa 'Indonesian women usually can't take long distance relationships' (KATA SIAPAAAA?! *marah* *lho?*) Hehehe.

Secara keseluruhan, novel ini light banget, tapi nggak bikin greget gitu. Mungkin saat tahun terbitnya, novel yang bersetting Indonesia-Korea lagi in ya, jadi saya rasanya telat banget baca ini. Saya juga banyak mendapati adegan ala drama Korea, lucu lucu gemas hihi.

Oh iya, Lia Indra Andriana juga baru-baru ini mem-publish tulisannya, yakni 47 Dongeng Korea di wattpad Penerbit Haru. Kabar baiknya adalah, kita bisa membacanya gratis! Yeay. 

Sekian ya, riviyu saya. See you soon!


-Postingan ini juga sebagai setoran ketiga untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2016, dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016

Cheers, 
Ajeng.

[Review] Fly to the Sky - Nina Ardianti & Moemoe Rizal


Penulis: Nina Ardianti & Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 356 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating (by Ajeng): 4/5

Edyta Adriannisa Fauzi adalah seorang bankir berumur 26 tahun yang sedang putus asa mencari tambatan hatinya. Terlebih orang-orang di lingkarannya tiada henti menggodanya, dari Mami sampai Ihsan—deskmate di kantornya. Namun, tidak dapat dipungkiri, dirinya adalah seorang mess-maker. Syiana—sahabat Edyta sejak SMP mengatakan bahwa Edyta itu cantik, baik hati, menyenangkan, dan satu-satunya hal yang kurang dari dirinya hanyalah lack of confidence. Orang-orang terdekatnya berkali-kali mengatur blind date untuknya, dan hasilnya masih nihil.

Lalu, datanglah seorang pria tampan bernama Radit yang mana ialah sahabat Yudha—pacar Syiana. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Radit ternyata tertarik kepada Edyta. Di sisi lain, Edyta terus dipaksa untuk menjalani blind date yang kali ini diatur oleh Ferro, kakaknya. Sialnya, pasangan kencan buta Edyta tidak muncul juga, dengan dalih buntut anjingnya kejepit pintu. Alasan yang aneh.

Kesal dengan hal tersebut, Edyta yang lapar memutuskan untuk pergi ke Candra Kirana resto. Olala, kudu waiting list! Kemudian, Edyta yang melihat ada meja kosong, buru-buru melesat ke sana. Lho, tiba-tiba kok ada mas-mas muncul dan mengklaim meja Edyta? Singkat cerita, mas-mas yang akhirnya Edyta ketahui bernama Ardian, memutuskan untuk membiarkan Edyta dan makan bersamanya. Ardian adalah seorang pilot perfeksionis yang juga sedang mencari pasangan hidup. Dan saat itu juga, Ardian membuat Edyta luluh dengan sikap cekatannya, menjadi penolong atas kesialan Edyta,

Siapa yang akan berakhir dengan Edyta? Radit si Pemilik senyum menawan, atau Ardian, yang baru ditemuinya sekali? 
***
Quotes
“Kalau kamu nggak bisa tertawa berulang-ulang untuk hal yang sama, lalu mengapa kamu terus menangis berulang-ulang untuk masalah yang sama?” –hal 64.
 “Nah, that would be true. Tiap malem bakal makan bebek. Since living with me will be everyday special.” –hal 75 (CHEESY BANGET kayak nonton drama korea *cry*)
*** 
Alohaaa, see me again at reviewing books! Kali ini, saya mereview novel Gagas lagi, dong hehehe. Semoga nggak bosan. Vakum cukup lama setelah baca Dilan (apa kabar, Dilanku? T.T), akhirnya berhasil baca ini dalam satu duduk. Yeay! Another achievement unlocked.

Pertama kali Ardian muncul, saya langsung senang! Abisnya dia tipe idaman banget sih, apa lagi pilot tuh, masa depan bakal terjamin banget (Keep dreaming!). Dari awal saya udah nggak sreg sama si Radit, sih :P Dan saya terus berdo'a, please end up sama Ardian T.T . Berdo'a semoga ending-nya nggak kayak drama korea Reply 1988 (#TeamJunghwanAlltheway). 

Fly to the Sky menyediakan dua sudut pandang, yakni dari Edyta yang ditulis oleh Nina Ardianti, dan Ardian oleh Moemoe Rizal. Saya jujur lebih suka penulisan sudut pandang Edyta, ya, hehe. Tapi di POV Edyta ini cukup banyak disisipkan bahasa Inggris. Bagi saya sih nggak begitu masalah, cuma agak mengganggu aja hehe, kalau yang lain gimana? Oh iya, bagian pembajakan pesawat karena masalah cinta menurut saya terlalu nggak masuk akal :( Ya biar dramatis gitu, nggak apa deh hahaha. 

Saya enjoy banget baca ini, karena dalam hitungan jam saja sudah selesai. Keseluruhan ceritanya juga light banget, mengalir gitu, biarpun ketebak endingnya, tapi tetep deg-degan karena jalan yang harus dilalui kedua tokoh ini kayaknya tough banget yah? Wkwkwk. 

4/5!

-Postingan ini juga sebagai setoran kedua untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2016, dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016

Cheers,
Ajeng.