Saturday, 26 November 2016

Current hobby

Me is back!

I started to realize that I am fond of things related to historical romance, the british one in particular. Last year, I read Pride & Prejudice by Jane Austen (all hail Austen!) in Indonesian. I love it but that's it. It all began when I stumbled upon great stories at Wattpad! I found that app fascinating because it provided LOTS of amazing stories and all free! YAs I love free things. 

Since english is not my mother tongue, I sometimes find it difficult to decipher some words in a story. The classic one to be specific. But that's not a big deal since I take it as a part of learning. Learning new language is always mesmerizing, isn't it? 

I would love to recommend Regency Series by @litttleLo (you can check it out by clicking her profile here). Laura is a great writer I must admit it. I still have tons of historical fiction stories in my wattpad library tho :p

And for the 'proper' story, Pride and Prejudice by Jane Austen. I am still improving my english so I can read other Austen's masterpiece such as Persuasion (I heard that it's good as well). I like stories set in victorian era. Do you have any recommendation? 

Besides, I currently like to watch period-drama. I have watched Pride and Prejudice, Becoming Jane, and The Young Victorian. Here I'd love to recommend some movies;

1. Pride and Prejudice (2005)
    aren't we all?
 How I love this movie! The Bennet sisters and their mother though. One thing that this movie didn't live up my expectation that Jane Bennet should've been more beautiful! She looks rather old here in my opinion. Therefore, Keira Knightley had managed to represent Libby quite well. What I love most is the ending, you should go watch it.  
        
    2. Becoming Jane (2007)
(deep sigh)
This is a biographical movie of Jane Austen. We all know that she herself stayed unmarried until her death, along with her sister, don't we? Yet she managed to write things that perhaps she'd dreamed of. She deserved more than that. Mayhap if she'd agreed to their elopement, Pride & Prejudice shall never born. Tis taught us that there's so much things in life to pursue and love is the least in the list. So much things. 

3. The Young Victoria (2009)

BEAUTIFUL. Period.
This movie is beautiful. It persuades me to learn about history of england (thus I'm considering to take english literature as my major later but idkkk really). Above is the scene when she proposed to Albert. YASH. SHE proposed. Queen does. I wish I were a queen lol. And they must love each other very much to have nine children. NINE for godheaven's sake. And thus I know that male does not inherit title from female (which makes Albert not a king, yes I was a dumb lol). 

Sooo that's it! I am in the middle of final exam. I know nothing of accounting and I must study now so I can get good grades. Wish me luck fellas!

Tuesday, 20 September 2016

Wadu~

Saya ndak menyangka lho statistik visitor blog ini cukup fluktuatif. Maka itu, saya meminta maaf atas kelancangan saya yang vakum seenaknya sendiri. Kehidupan yang sebenarnya (ada kok yang palsu) ((hm apa ya)) cukup sibuque sehingga tidak ada bahan untuk diposting. Tapi saya selalu active di tumblr ko~ urlnya apa? Rahasyiya~~ Doakan saya yah yang besoque UTS. Bhay!

Reorganisasi MPK, akhirnya purna tugas~~ Lengkap dengan signature pose masing-masing angkatan. Sukses!

Tuesday, 29 March 2016

[Review] Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dirgantara
Tebal: 270 halaman
Tahun Terbit: 2003
Rating (By Ajeng): 4/5

"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini."
"Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti."

Gadis Pantai yang masih berumur 14 tahun dibawa ke kota untuk dikawinkan dengan Bendoro di kota, meninggalkan kampung nelayan, meninggalkan emak dan bapak, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang membuat tangannya kasar.

Tidak ada perayaan atas perkawinannya, tidak ada pesta barang sekecil pun. Gadis pantai hanyalah budak sahaya yang dikawinkan dengan priyayi. Dikawinkan dengan bendoro, tidak lantas serta-merta menjadi nyonya bendoro. Bendoro akan dianggap masih bujang apabila ia belum beristri seorang priyayi seperti statusnya.

Beruntung Gadis Pantai memiliki seorang pelayan tua yang sehari-hari bersedia untuk mendongengi Gadis Pantai. Naas, sebuah kejadian membuat si Mbok, pelayan Gadis Pantai, didepak dari kediaman bendoro, berhenti melayani Gadis Pantai. Gadis Pantai belajar banyak dari si Mbok, dari dongeng-dongeng dan cerita hidup yang tiap saat dilantunkan si Mbok.

Dikelilingi dinding-dinding di kediaman bendoro, Gadis Pantai merasa kesepian. Ia rindu dengan emak, bapak, dan kampungnya. Ia rindu kesederhanaan yang lebih pantas disebut kemiskinan di kampung nelayan. Ia rindu deburan ombak yang mengantarkan perahu bapak melaut.

***
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang dihina-hina. 
***
Sebuah roman unfinished karya Pramoedya Ananta Toer, mengupas mengenai kehidupan pelik seorang sahaya, serta kemewahan yang hanya dapat dicecap oleh kaum priyayi. Tiadalah arti disandingkan dengan seorang priyayi jikalau hanya seorang sahaya, tidak lebih.

Sangat disayangkan karena sebetulnya roman ini merupakan trilogi. Dua buku lanjutan Gadis Pantai aib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara. Bahkan Gadis Pantai tidak akan sampai ke tangan para pembaca jika pihak Universitas Nasional Australia di Canberra tidak mendokumentasikannya lewat mahasiswa yang mengambil tesis seputar proses kepengarangan Pramoedya di tengah golak budaya dan kuasa.

Roman yang menyinggung feodalisme Jawa ini membuka mata saya. Orang biasa pada zaman dahulu adalah sama dengan budak. Membaca ini, membuat saya berandai-andai, siapakah saya bila hidup pada masa kolonialisme? Apakah saya juga menjadi korban kekejaman Daendels?

4/5 untuk buku yang membuat saya merinding. Nasib tidak mengantarkan Gadis Pantai kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Takdir manusia siapa yang tahu.

***
"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...
Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi...
Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang
berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan."
                                               —Pramoedya Ananta Toer

Monday, 21 March 2016

[Review] Bubble Love - Fei & Lia Indra Andriana


Penulis: Fei & Lia Indra Andriana
Penerbit: Sheila
Tebal: 158 halaman
Tahun terbit: 2011
Rating (By Ajeng) : 2.5/5

Vivian membenci dirinya yang lama, ia merasa terlalu mudah dibodohi. Oleh karenanya, ia mengubah penampilannya menjadi gadis yang lebih liar. Ini semua gara-gara Seon-ho, pria berkewarganegaraan Korea yang memutuskannya beberapa waktu lalu. Vivian pun bertambah geram ketika mengetahui Seon-ho justru berpacaran dengan anak SMA setelah putus dengannya.

Tak mau berlarut-larut, Vivian mencoba untuk move on dengan menjalani kencan dengan Andros Riviera, playboy dari segala playboy. Biarpun playboy, Vivian tidak mau melewatkan kesempatan ini. Andros adalah pria yang layak dipertimbangkan, pria ideal yang juga adalah pewaris salah satu top ten company di negeri ini. 

Hubungannya dengan Andros menyebabkan keretakan pada persahabatan Vivian dan Sinae. Pasalnya, Sinae yang lebih dulu tahu mengenai Andros, namun justru Vivian yang duluan mendapatkannya. Sinae tentu saja terbakar api cemburu. 

Sementara itu, Seon-ho yang berencana untuk mengikuti wajib militer tahun ini semakin uring-uringan karena dirinya terus saja teringat akan Vivian. Seon-ho semakin tidak rela meninggalkan Indonesia.



***
Aloha! Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, saya berhasil membuat 2 postingan review! Yeay. 

Well, saya jujur saja memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku ini, sekitar satu minggu mungkin. Padahal jumlah halamannya kurang dari 200, phew. Saya memutuskan untuk membaca buku ini karena penulisnya, saya suka sekali novel Bi! (Fei) dan juga novel-novel Lia Indra. Tapi sayangnya, yang ini kok tidak sesuai ekspektasi saya, ya? T.T

Ada yang sepikiran sama saya tidak ya, kalau covernya gloomy banget? Wkwkwk. By the way, saya sebel sama Andros yang mengatakan bahwa 'Indonesian women usually can't take long distance relationships' (KATA SIAPAAAA?! *marah* *lho?*) Hehehe.

Secara keseluruhan, novel ini light banget, tapi nggak bikin greget gitu. Mungkin saat tahun terbitnya, novel yang bersetting Indonesia-Korea lagi in ya, jadi saya rasanya telat banget baca ini. Saya juga banyak mendapati adegan ala drama Korea, lucu lucu gemas hihi.

Oh iya, Lia Indra Andriana juga baru-baru ini mem-publish tulisannya, yakni 47 Dongeng Korea di wattpad Penerbit Haru. Kabar baiknya adalah, kita bisa membacanya gratis! Yeay. 

Sekian ya, riviyu saya. See you soon!


-Postingan ini juga sebagai setoran ketiga untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2016, dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016

Cheers, 
Ajeng.

[Review] Fly to the Sky - Nina Ardianti & Moemoe Rizal


Penulis: Nina Ardianti & Moemoe Rizal
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 356 halaman
Tahun Terbit: 2012
Rating (by Ajeng): 4/5

Edyta Adriannisa Fauzi adalah seorang bankir berumur 26 tahun yang sedang putus asa mencari tambatan hatinya. Terlebih orang-orang di lingkarannya tiada henti menggodanya, dari Mami sampai Ihsan—deskmate di kantornya. Namun, tidak dapat dipungkiri, dirinya adalah seorang mess-maker. Syiana—sahabat Edyta sejak SMP mengatakan bahwa Edyta itu cantik, baik hati, menyenangkan, dan satu-satunya hal yang kurang dari dirinya hanyalah lack of confidence. Orang-orang terdekatnya berkali-kali mengatur blind date untuknya, dan hasilnya masih nihil.

Lalu, datanglah seorang pria tampan bernama Radit yang mana ialah sahabat Yudha—pacar Syiana. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Radit ternyata tertarik kepada Edyta. Di sisi lain, Edyta terus dipaksa untuk menjalani blind date yang kali ini diatur oleh Ferro, kakaknya. Sialnya, pasangan kencan buta Edyta tidak muncul juga, dengan dalih buntut anjingnya kejepit pintu. Alasan yang aneh.

Kesal dengan hal tersebut, Edyta yang lapar memutuskan untuk pergi ke Candra Kirana resto. Olala, kudu waiting list! Kemudian, Edyta yang melihat ada meja kosong, buru-buru melesat ke sana. Lho, tiba-tiba kok ada mas-mas muncul dan mengklaim meja Edyta? Singkat cerita, mas-mas yang akhirnya Edyta ketahui bernama Ardian, memutuskan untuk membiarkan Edyta dan makan bersamanya. Ardian adalah seorang pilot perfeksionis yang juga sedang mencari pasangan hidup. Dan saat itu juga, Ardian membuat Edyta luluh dengan sikap cekatannya, menjadi penolong atas kesialan Edyta,

Siapa yang akan berakhir dengan Edyta? Radit si Pemilik senyum menawan, atau Ardian, yang baru ditemuinya sekali? 
***
Quotes
“Kalau kamu nggak bisa tertawa berulang-ulang untuk hal yang sama, lalu mengapa kamu terus menangis berulang-ulang untuk masalah yang sama?” –hal 64.
 “Nah, that would be true. Tiap malem bakal makan bebek. Since living with me will be everyday special.” –hal 75 (CHEESY BANGET kayak nonton drama korea *cry*)
*** 
Alohaaa, see me again at reviewing books! Kali ini, saya mereview novel Gagas lagi, dong hehehe. Semoga nggak bosan. Vakum cukup lama setelah baca Dilan (apa kabar, Dilanku? T.T), akhirnya berhasil baca ini dalam satu duduk. Yeay! Another achievement unlocked.

Pertama kali Ardian muncul, saya langsung senang! Abisnya dia tipe idaman banget sih, apa lagi pilot tuh, masa depan bakal terjamin banget (Keep dreaming!). Dari awal saya udah nggak sreg sama si Radit, sih :P Dan saya terus berdo'a, please end up sama Ardian T.T . Berdo'a semoga ending-nya nggak kayak drama korea Reply 1988 (#TeamJunghwanAlltheway). 

Fly to the Sky menyediakan dua sudut pandang, yakni dari Edyta yang ditulis oleh Nina Ardianti, dan Ardian oleh Moemoe Rizal. Saya jujur lebih suka penulisan sudut pandang Edyta, ya, hehe. Tapi di POV Edyta ini cukup banyak disisipkan bahasa Inggris. Bagi saya sih nggak begitu masalah, cuma agak mengganggu aja hehe, kalau yang lain gimana? Oh iya, bagian pembajakan pesawat karena masalah cinta menurut saya terlalu nggak masuk akal :( Ya biar dramatis gitu, nggak apa deh hahaha. 

Saya enjoy banget baca ini, karena dalam hitungan jam saja sudah selesai. Keseluruhan ceritanya juga light banget, mengalir gitu, biarpun ketebak endingnya, tapi tetep deg-degan karena jalan yang harus dilalui kedua tokoh ini kayaknya tough banget yah? Wkwkwk. 

4/5!

-Postingan ini juga sebagai setoran kedua untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2016, dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016

Cheers,
Ajeng. 

Wednesday, 17 February 2016

Bali 2015: We Choose Joy! (Part 3 of 5)

Halow! Kembali lagi bersama sayaah, di Bali series! Yeaay, dah setengah jalan aja dong.

Cus ya...

Karena saya tipe orang yang kudu adaptasi dulu sama tempat baru, walhasil saya adalah yang terakhir tidur di kamar 204. Pukul setengah enam pagi, saya dibangunkan oleh Monchan, "bangun! Itu mataharinya sudah mau terbit, lho." Saya mengerjap-ngerjapkan mata sembari mengumpulkan nyawa, lantas mengambil air wudhu untuk sholat Subuh yang kesiangan hehehe.


Finally, pada hari itu saya berkesempatan untuk berdandan syantek sebelum jalan-jalan. Nggak literally dandan, sih. At least penampilan saya proper. Yoohoo!

Sarapan di hotel, seperti biasa, mengantre. Kalau study tour tuh, harus siapin stok sabar banyak-banyak. Supaya nggak bete huehehe. Sarapannya lumayan; sate, nugget satu biji (elah-_-), dan kuah gulai tapi isinya kubis WKWKW apaan dah absurd bener. Alhamdulillah abis dong.

Sesudah sarapan, kami langsung ke Pantai Kuta. Ada perubahan itinerary lagi, harusnya Pantai Kuta diletakkan di sore hari, menikmati sunset (serius deh di itinerary ditulis begitu), Eh, dibalik aja tuh jadi pagi hari. Alasannya klise, kalau sore macet :) :) *senyoom*

Dari parkiran bus ke Pantai Kuta-nya sendiri cukup jauh, dan kita perlu naik shuttle bus (AC-nya alami ya, don't expect much) selama 10 menit sebelum sampai ke obyek. Di sana, kami hanya putu-putu syantek aja. Nggak main air. Namun, saya yang mengenakan rok (#UKHTILYFE) dan bertekad untuk tidak kena air pantai, akhirnya basyah jugak. Oh iya, kok belum banyak turis mancanegara ya? Itu sekitar jam 8-9an. Ena juga, liat pemandangan yang nggak ada di Poerwakerta.



Berfoto Syantek
With Frens @ Kuta Beach





Balik ke bus, alas kaki saya penuh pasiiir. Untung bawa tissue basah (buy 1 get 1 lho, merk Cuss*ns). Lanjut ke Tanjung Benoa. Yha, ngepantai muluk hari ini. Jaraknya sekitar 20km dari Kuta, 30 menit ditempuh dengan bus (cmiiw yha frens). Di bus, si tourguide yang bernama I Gede Banget ini berusaha untuk mencairkan suasana dengan lawakan seperti;
"Di Bali ada kandang burung terbesar di Indonesia. Ada macam-macam burung di dalamnya, dan ada pula orang yang dibayar untuk menjaga kandang burung tersebut."
I was like, 'kok gw gak pernah denger yah?' Turned out that yang dimaksud beliau adalah Bandara Ngurah Rai. Damn, I almost fell for his lame jokes. /Deep sighs/ Dan my busmate, Monchan, langsung bete tuh sama beliau, hahaha.

Buat masuk ke Tanjung Benoa-nya tuh, jauh beneeer. Sempat juga melewati gerai sbux, dan teman saya sempat ada yang mau melipir ke sana, namun nggak jadi karena jaraknya jauh ternyata. Panas buanget di sana, gimana kalau di Padang Mahsyar ya? Itu aja sudah berasa matahari berada di atas kepala. 

Tourguide-nya juga bercerita bahwasannya dahulu, Tanjung Benoa adalah sebuah antah berantah. Dan Garuda Indonesia adalah pihak pertama yang berinvestasi di situ. Luas Tanjung Benoa sendiri yakni 300 sekian hektar, Jadilah Tanjung Benoa yang famous seperti sekarang ini, dengan berbagai fasilitas yang dapat ditawarkan kepada turis seperti banana-boat, parasailing, wisata ke Pulau Penyu, atau hanya duduk-duduk menikmati kelapa muda juga asyik. 

Saya sendiri memilih untuk berwisata ke Pulau Penyu, atau yang disebut dengan Teluk Penyu. Kami hanya perlu membayar ongkos pulang-pergi perahu sebesar IDR 50K, dan untuk masuknya sebesar IDR 5K. Kita putu-putu deh sama si penyu dari berbagai ukuran. Nggak hanya penyu, ada juga eagle, kakaktua, biawak, dan lain-lain.

Ondewei Pulau Penyu, ini si Rini sebelah kanan saya sepertinya kegirangan bisa menyentuh air laut wkwkwk.
Ini lho penampakan penyu-penyu rakzaza. Mancay! Boleh dipegang-pegang jugak, diajak foto juga oke^^

Karena perahunya nggak sampai tepat di pulaunya, kami harus jalan sedikit. Nemu rumput laut! Horray!
Ini yang paling guedeeee
Nggak siap foto, cekrek!
Ini foto nggak ada faedahnya sih, itu belakang patung penyu btw 
Ama kakaktua!
Iguanaaaa
Pemandangannya menyejukkan ya?
Hasil jepretan saya, oke jugaa.
Lumayan jalannya, lumayan bikin basyah!

Kelar di pulau penyu, akhirnya kami ngantre makan. Tapi karena saya betenya minta ampun, saya memotong antrean! HAHAHA. Maapin yak *sungkem* di sini, kami berkesempatan untuk mencoba sate lillit, sayangnya saya nggak suka hohoho. Nah terus, di situ tuh ada 2 tempat untuk makan yang dibatasi dengan tali. Karena jam makan siang, otomatis rame banget dong. Dan finally dapat tempat kosong, tapi malah dibilangin sama si tourleadernya, "jangan makan di sini ya." Maksudnya dia mau ngebook gitu. Dih, enak aja. Akhirnya guru-guru saya pun bilang, "nggak papa makan sini aja." Dongkol maksimal.

Lanjut, kita sholat di Puja Mandala Bakti. Musim liburan bok, rame bener di situ. Cari tempat sholat yang lain bisa kali. Mungkin maksudnya biar kita berkesempatan untuk mengunjungi PMB. Tapi yo, mbok ya nggak gitu juga. FYI, PMB itu adalah sebuah tempat di mana terdapat beragam tempat ibadah. Untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama. Setahu saya begitu. Ada masjid, gereja kristen, gereja katolik, pura (tentu saja) dan vihara. Mau sholat, welahdalah, airnya malah habis.
Akhirnya saya punya ide untuk ke minimarket terdekat dan numpang toiletnya untuk wudhu (sambil beli apa gitu ya, buat pantas-pantas) dan akhirnya sholat.

The next destination is Pandawa Beach. The most beautiful beach I've ever seen! Like, it is literally beautiful. Instead of Kuta, I'd recommend you to go to Pandawa. Sebelum sampai, kita bahkan sudah disuguhi pemandangan tebing-tebing yang eksotis abis. Anyway, Pandawa ini adalah pantai berpasir putih, dan airnya pun biru kejernihan. Fasilitas di sini hanya ada kano dan massage sih, tapi buat foto-foto aja juga udah oke.

Pardon my komuk. Itu lho tebing-tebing yang saya maksud...
Pasyir putih. Ini kalo gw masukin ig captionnya apa ya, hm..

Pardon my komuk (2) Ini kanonyaaa. 50 ato 75k gitu 
Ceritanya pose malu-maluin yang dipelopori oleh Saudara Rizal
Jam 5 lebih 5 sore, karena nungguin teman-teman yang berkano dan ganti baju and things(?) jadi ngaret deh seperti biasah. Trus kita lanjut ke GWK (Garuda Wisnu Kencana) kita akan menonton tari kecak di sana, yuhuu. Dari Pandawa sampai GWK sekitar 30menitan btw. Setelah sampai, kita dijemput oleh shuttle (kali ini beneran menyerupai shuttle) sebenernya nggak jauh-jauh amat sih, jalan juga bisa. Masuk, kita foto-foto dong langsung!

Sama Telisya. Ucul yaa huehehe
Foto sama ojones. Banyak banget orang bikin pusying
Dari kiri ke kanan: Ajeng, Monchan, Litta, Vani, Rini. Bonus tourleader di belakang noh
Finally, get to see Kecak Dance!
Main actorsnyaaa
Poto ama si cantik. Btw itu komuk gw wkwkwk.

Oya, di GWK ini jajannya mahal-mahal pisun. Masak sirup marjan melon yang di-cup-in (bilangnya sih jus gitu ya) 15K huhuhuh monang untung gak beli. Trus teman saya juga beli sejenis crepes gitu, 25K hohoho *kekep dompet erat erat*

Sekitar jam 6 petang waktu setempat, tari kecaknya mulai. Sebelumnya, penarinya juga ritual dulu keliling GWK, entah maksudnya apa ya, saya kurang tahu.
Kemudian, obor-obor pun dinyalakan, suara "cak kecak kecak cak" mulai bersahutan, 
Eh ada dancer yang guanteng lho wkwkw. Well, it's a must to see Kecak Dance when you're in Bali, so amazing and mesmerizing. Got me chill! Sekitar 30-45 menit kemudian, tari kecaknya selesai.

Abis nonton tari kecak, kita cus ke Krisna, muacet puol otw kesananya tuh. Saya langsung kontak-kontak keluarga, mau dibelikan apa.
Akhirnya, petualangan yang sebenarnya dimulai.
Yey! Belanja belanji! Saya cari kaos-kaos, tas kecil, sandal, pie susu (btw tadi ada yang jual pie susu di Pandawa dan lebih murah *sobs*), kacang asin, gitu-gitu deh. Di sini, kita juga ditempeli stiker, tapi sesuai rombongan gitu (biar ga ilang kali yak). Kelar menunaikan kewajiban (re: belanja), makan di Krisna juga, dan lanjut ke hotel, lanjut mandi, sholat, tata-tata koper (karena besoknya kita check out huhuhu). Saya bertiga, dengan Monchan dan Litta, nggak langsung bobok. Kami ngakak-ngikik ngalor ngidul, kasihan Een yang udah tidur kebrisikan wkwk. Oya! Kita juga menemukan fakta menarik lhooo, bahwasannya, tourleader bus kita ternyata tuh seumuran! Jadi bahan obrolan deh. Si Litta ngefans banget tuh ama doi. Tapi bilangnya sekarang dah move on sih wkwk. Kita akhirnya baru tidur setelah pukul 01.30 A.M.

Zzzz...


Wednesday, 3 February 2016

[Review] Memilikimu - Sanie B. Kuncoro

Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penerbit: Gagas Media
Tebal: 281 halaman
Terbit: 2011
Rating: 3/5

Anom Ilalang dan Samara adalah sepasang suami istri bahagia, hidup mereka pun rasanya tak kurang suatu apa. Walaupun Anom sudah mengenal Samara selama sepuluh tahun lebih, namun alih-alih meredup, cinta Anom kepada Samara makin terpancar seiring berjalannya waktu.

Namun, manusia memang makhluk yang tak pernah puas. Samara telah lama divonis mandul, yang berakibat tak dapat melanjutkan garis keturunan dirinya dan Anom Ilalang—seorang yang gagah. Samara tak pernah menginginkan adopsi atau sejenisnya. Ia pikir dirinya dan Anom sudah mengikhlaskan takdirnya tersebut. 

Berbeda dengan Samara, Anom sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam bahtera rumah tangga mereka. Akhirnya, ia memutuskan cara yang menurutnya aman agar dapat melanjutkan garis keturunannya, yakni kontrak Rahim dengan seorang PSK Freelance bernama Lembayung. 

Di sisi lain, Lembayung yang dihadapi dengan masalah finansial tak kuasa untuk menolak tawaran Anom tersebut. Apakah ini yang disebut pengkhianatan bagi Samara?
***
Membaca karya Sanie B. Kuncoro ini, saya seperti membaca puisi. Kata demi kata dapat diuntainya dengan indah sehingga menghasilkan kalimat penuh makna. Banyak juga terdapat majas simile, jujur saja, terkadang bikin capek sih. Seperti bertele-tele, namun saya harus mengakui bahwa this novel is so beautifully written by her.

Saya paling suka sama karakter Lembayung! Cuma ya, kasihan amat nasibnya. Lembayung itu kalau di real-life mungkin jadi seorang introvert yang misterius, nggak banyak orang yang tahu gitu (Ajeng mulai delu). 

Saya juga catat beberapa kutipan dari novel ini, beberapa di antaranya:
“Menjadi laki-laki tidak berarti bahwa aku lebih kuat daripadamu, tapi demi menjadi bentengmu aku akan berusaha lebih kuat dari sebelumnya.” –hal 30. 
“Tangis adalah pintu pelepasan bagi sesuatu yang tak layak disimpan.” –hal 31.

 “Serapi apa pun tebal pembungkus pisaumu, tak akan mengurangi tajamnya pisau pengkhianatanmu.” – hal 65.
“Tidak semua badai bermurah hati memberikan tanda awal kedatangannya. Ada badai yang menelusup diam-diam, merayap tanpa suara, lalu menghantam seketika dengan gerak mematikan tanpa belas kasihan.” –hal 141
Saya beri bintang 3/5 untuk Memilikimu. Cocok untuk bacaan ringan di waktu senggang. Besides, who can’t resist a novel from Gagas?

Hampir lupa! Postingan ini juga merangkup sebagai setoran perdana untuk Indonesian Romance Reading Challenge 2016, dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016. Yeay!

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016 (labelnya perpusnya kelihatan, kan? :p)


Cheers, 
Ajeng.


Tuesday, 2 February 2016

[Master Post] Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016


Ampun deh Ajeng! Baru kemarin buat master post IRRC16, sekarang sudah ikutan lagi. 
Setiap challenge harus ada latar belakangnya dong! Jadi, apa latar belakangnya? 

Sejak Perpusarda (Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Banyumas) di kabupaten saya direnov, saya jadi semangat ke perpusarda. Paling enggak, seminggu sekali saya kesana. Tempatnya cozy banget! Sebelum masuk, pengunjung harus mendaftarkan di semacam buku tamu, namun digital (baik member maupun bukan). Jadi mengisinya ya, di komputer. Kemudian, masuk ke dalam, saya disuguhi banyak sekali buku. Surga! Kalau ingin membaca, bisa naik ke lantai dua. Biasanya lantai dua ini diisi dengan anak-anak sekolah (macam saya) yang ingin membaca, mengerjakan tugas, atau sekedar numpang wi-fi. Pokoknya asik! (Nanti akan saya tambahkan foto-foto Perpusarda Banyumas)

Jadilah saya mengikuti proyek yang diselenggarakan Mbak Ira ini. Berikut ketentuannya:
  1. Daftarkan diri kalian di kolom komentar di post ini dengan format: NAMA – LINK AKUN MEDIA SOSIAL (Facebook/Twitter/Instagram) YANG MASIH AKTIF DAN BISA DIHUBUNGI. Kalian bisa mendaftar kapan saja selama periode proyek ini yang berlangsung dari tanggal 1 Januari – 30 Desember 2016. Yang punya blog, dipersilakan membuat master post-nya juga.
  2. Pinjam dan baca buku dari perpustakaan di kota kalian.
  3. Share foto buku + kesan singkat kalian setelah membaca buku tersebut atau link review (kalau kalian mereview bukunya) di akun media sosial yang kalian daftarkan. Pastikan label buatan perpustakaannya terlihat di foto sebagai bukti kalau buku tersebut memang dipinjam dari perpustakaan. Jangan lupa mention dengan hashtag #pbbp di akun FB: Ira Mustika, akun Twitter: @irabooklover atau akun Instagram: @irabooklover.
  4. Setiap link mention yang memenuhi syarat (ingat harus ada foto buku dan kesan pendek atau reviewnya) yang masuk di akun medsos Mbak Ira akan dipilih secara acak di akhir periode. Akan ada hadiah untuk 1 link terpilih berupa buku pilihan sendiri senilai maksimal Rp100.000. Cuma 1 ? Jangan khawatir, Mbak Ira kemungkinan akan menambah jumlah link terpilih kalau pesertanya banyak ;) Seberapa banyak? Well, kita lihat saja nanti, mwuahahaha, *jahat XD
  5. Kalian boleh memention Mbak Ira berkali-kali untuk satu buku yang sama, tapi link yang dimasukkan ke dalam daftar undian hanya 1 link untuk setiap buku. Jadi semakin banyak kalian membaca buku perpustakaan, semakin besar kesempatan untuk terpilih ^_^
  6. Pemenang akan diumumkan diakhir periode saat membuat Wrap Up Post tanggal 31 Desember 2016 sekalian menghitung seberapa banyak buku yang sudah dipinjam dan dibaca Mbak Ira dari perpustakaan. Silakan laporkan hasil kalian juga di kolom komentar Wrap Up post nanti.
Oke, segitu aja. Saya In Sya Allah akan mengupdate progressnya. 
Cheers,
Ajeng.

Indonesian Romance Reading Challenge 2016


Hola-Holi-Holu!

Akhirnya Ajeng memutuskan untuk mengikuti Indonesian Romance Reading Challenge 2016 ini! Yeay! Tahu nggak sih, apa yang melatarbelakangi saya untuk mengikuti tantangan ini? 

Ketidakproduktifan saya dalam membaca buku. 

Sejak masuk SMA, saya merasa jarak di antara kami (saya dan buku tentunya) semakin merenggang. Literasi media yang dijadwalkan 15 menit sebelum masuk sekolah pun tidak membantu (justru membuat jadwal kepulangan semakin sore, huh). Praktis saja, 15 menit tidak akan cukup untuk membaca buku, yang akan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan dan kegiatan belajar mengajar.

Untuk mendekatkan kembali saya dengan buku, diputuskanlah untuk mengikuti ini. Di Goodreads saya juga sudah memasang target. Namun, karena novel bergenre romance adalah favorit saya, jadi.. Here I am!

Berikut peraturan dalam mengikuti IRRC'16:

1. Indonesian Romance Reading Challenge ini berdurasi selama satu tahun, dimulai dari bulan Januari sampai Desember 2016. 

2. Memasang button IRRC 2016 di sidebar blog kalian dan memberikan tautan balik ke link postingan ini. 

3. Disarankan membuat master post dan menautbalikkan ke link post ini. Dan pada akhir tantangan, dipersilahkan membuat wrap-up post sebagai rekap hasil bacaan selama setahun ini. Jika tidak membuat masterpost, mohon setelah mendaftarkan link blog kalian dan juga alamat email di kolom komentar, sebutkan level yang akan kalian ambil di kolom komentar. 

4. Bagi yang tidak punya blog, bisa membuat shelf di Goodreads dengan nama shelf "IRRC 2016" dan silakan daftarkan linknya di kolom komentar. 

5. Syarat buku bacaan yang dapat diikutkan dalam IRRC 2016 ini adalah:

- Buku yang dibaca adalah buku fiksi bergenre romance, boleh berupa novel, antologi, kumpulan cerpen, novella, dan sejenisnya; bukan komik dan buku nonfiksi

- Buku yang dibaca harus buku karya pengarang Indonesia, bukan buku terjemahan karya pengarang luar negeri. 

- Buku yang dibaca boleh terbitan dari tahun kapan pun, penerbit mana pun, asal masih memiliki nuansa romance di dalamnya. 

6. Diperbolehkan re-read atau membaca ulang. 

7. Diharuskan menyelesaikan bacaan dan membuat review. Review dapat ditulis di blog (tidak harus blog buku, tapi masih merupakan blog aktif), notes Facebook, atau review Goodreads. 

8. Buku-buku yang dibaca boleh digabung dengan reading challenges lain yang teman-teman ikuti. 

9. Teman-teman dapat memilih level challenge IRRC 2016 berikut ini : 

Easy : membaca 1 - 10 buku 
Middle : membaca 11 - 20 buku
Hard : membaca 21 - 30 buku
Maniac : membaca lebih dari 30buku

Naik level diperbolehkan. Mohon untuk memberitahukan lewat kolom komentar jika teman-teman berencana naik level.

10. Pendaftaran dibuka mulai hari ini, 12 Januari 2016 sampai 30 November 2016 

11. Update reading progress akan dibuka setiap tiga bulan sekali. Akan diadakan giveaway untuk peserta yang mengupdate progressnya saat link update dibuka.

Giveaway Indonesian Romance Reading Challenge 2016

1. Di akhir acara, akan dipilih 2 (DUA) orang yang menyelesaikan tantangan dengan jumlah buku bacaan terbanyak. Hadiah yang aku sediakan adalah voucher buku sebesar Rp200.000 (untuk pemenang pertama) dan Rp 150.000 (untuk pemenang kedua). Artinya, hadiah hanya berlaku bagi peserta yang berada di wilayah Indonesia saja.

2. Doakan saja ya kalau ada rezeki lebih banyak, mungkin ada penambahan hadiah. Dipersilahkan untuk kalian yang ingin menjadi donatur, dengan lapang dada aku akan menerimanya.

Jika ada masih yang kurang dimengerti dan ingin ditanyakan, silahkan layangkan pertanyaan di kolom komentar postingan ini, atau ke twitter @RizkyMirgawati atau via surel kikyavis[at]gmail[dot]com.

Oh ya, saya mengambil level Middle. Hehe, cemen ya? Syukur-syukur nambah.

Do'akan saya ya!

Thursday, 28 January 2016

Bali 2015: Excitement & Vexation (Part 2 of 5)

Selamat Hari Jumat!

Lama sekali sih, jarak antar part-nya? *sobs* Setelah diprotes teman-teman (nggak ding, kita lebih ke frienemy yak), akhirnya saya mengumpulkan nyali untuk melanjutkan post-an Bali ini. Yeay!

Jadi, cerita ini dimulai ketika saya membuka mata di hari kedua dalam perjalanan #Smada17 ke Bali. Saya terbangun pada pukul 2 ketika bus berhenti di SPBU. Entah untuk mengisi bahan bakar atau sekedar menumpang buang hajat. Pokoknya, saya itu punya kebiasaan kalau setiap kendaraan berhenti, saya langsung sadar. Hehehe. 

Menurut booklet yang berisi itenerary kami, harusnya sudah menyeberang pada pukul 1 dini hari. Namun, kenyataannya kami baru sampai di Pelabuhan Ketapang pada pukul 2 dini hari. Saya sudah siap-siap minum antimo, ternyata sampai subuh belum juga menyeberang dikarenakan bus yang bertumpah ruah di pelabuhan, maklum saja, musim liburan. 

Kurang lebih begini antriannya, hanya saja isinya kebanyakan bus atau truk. cr: Google Image.
Di Banyuwangi, pada pukul 5 pagi, sudah seperti pukul 6. Mungkin karena dekat-dekat Bali yang notabene GMT+8. He, sok tau. Dan ngeselinnya, kejadian bertemu ibu-ibu rese di WC umum terulang lagi. Hal ini membuat saya bersumpah untuk tidak menjadi ibu-ibu rese kelak.

Sembari menunggu bus mengantri agar dapat naik kapal dan menyeberang, saya dan teman-teman duduk-duduk di emperan. Bayangin deh, seharian belum mandi, badan remuk, muka kucel, heuh. Udah kayak pengemis kali yak. Finally, jam setengah tujuh pagi, akhirnya bus 4 masuk kapal feri. 

Beginilah foto di dalam kapal, penuh manusia-manusia yang ingin segera sampai di Pulau Dewata.

Saya dan teman-teman juga baru dapat tempat duduk di saat mau sampai. Nasib. 

Happy to see the sea!
Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Horray! Pada saat itu pukul setengah sembilan WITA.

Suasana pelabuhan yang tidak pernah tidur.
Begitu keluar dari kapal, saya berteriak di dalam hati "Akhirnya, first step di tanah Bali! Yooho!" Setelah itu kita kembali ke bus, melanjutkan perjalanan ke Bedugul. Tidak lupa untuk menge-set jam di ponsel menjadi WITA. 

Sebelum sampai ke Bedugul, mampir dulu di RM Soka untuk MCK dan sarapan. Akhirnyaaaa, mandi jugaaa. Hahaha. Oh ya, sebelumnya kami sekelas (XI IPS) sudah bersepakat untuk memakai jersey kelas yang berwarna merah menyala, seperti jersey milik MU gitu, di hari pertama di Bali. Ada kesepakatan begitu, ya saya mengepak jersey di tas ransel, dong. Welahdalah, nyatanya nggak jadi pakai jersey. Kzl. Baju saya yang lain di koper yang terletak di bagasi bus. Malas ah, bongkar-bongkar. Saya pakai jersey aja, membedakan diri. 

Setelah bersih-bersih, kami sarapan. Menunya ayam (kecil banget, bok), sayur sop, dan telur rebus dengan sambal (sedikit sekali). Saya pribadi nggak rekomen sih, di RM Soka. Menunya gitu deh. Nggak sesuai dengan lidah Jawa saya. Cuma, kamar mandinya enakeun, ada showernya. Bayar IDR 3K, tapi worth it, kok. Banget. 

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Bedugul. Sekitar 2,5 jam perjalanan dari RM Soka. Saya tidur, dong. Hehehe. Lalu terbangun karena teman-teman yang berisik, ternyata di perjalanan (sudah dekat ke Bedugul) banyak monyet-monyet. Otomatis pada bersahutan melontarkan jokes yang berkaitan dengan monyet. Tipikal.

Setelah melewati jalan meliuk-liuk dan disajikan pemandangan yang ciamik abis, akhirnya kami sampai di Bedugul. 

Jepretan saya, ini danaunya btw.
Ini lho, yang ada di uang seket ewu-an itu. Credit: Google Images.
Saya nggak sempat ke pura-nya karena waktunya habis untuk sholat dhuhur jama' qashar taqdim dengan sholat ashar. Dengar-dengar juga, ada kejadian tidak mengenakan yang terjadi pada teman saya di sana. Wanita yang sedang berhalangan tidak dianjurkan untuk memasuki pura, saya sih nggak percaya ya akan terjadi hal-hal yang tidak enak begitu. Tapi untuk menghormati adat budaya Bali, kenapa tidak?

Pihak Mulia Tour-nya juga malesin, kita disuruh cepetan. Apa-apanya diburu-buru, apalagi kalau di objek wisata, padahal kalau sedang belanja nggak dicepet-cepetin. Heran, bro. Lagi, saya nggak rekomen si tour ini. Hhhh.

Setelah foto-foto, kami melanjutkan ke Joger. Di sini, itinerary dibalik. Hari ketiga menjadi hari pertama. Tuh kan, makanya saya nggak rekomen. 

Di Joger, LAMA BANGEEET MAU MATI. Saya  dan teman-teman saya (Monchan, Litta, Rini, dan Vani) memutuskan untuk kembali ke bus dengan tangan kosong. Di bus, kami nungguin yang lain. Dari pukul setengah enam sore, sampai jam sembilan kurang. Gila gak tuh. Saya sangat menyayangkan pihak tournya, kenapa di sini nggak caket-caket? Kalau begitu kan kita jadi punya waktu istirahat banyak. Untuk membunuh waktu, kami yang ada di bus 4, karaokean dengan supirnya. 

Jam 10 atau 11 malam, kami mampir ke Cening Bagus untuk makan malam dan beli oleh-oleh. Nyicil, gitu. Disitu, saya udah bete maksimal. Udah capek dan ngantuk, justru disuruh makan. Menunya ayam (sampai bosan saya menulis ayam), tempe, sama ikan apa gitu (which is saya nggak ngambil). Teman-teman saya juga ada yang komplain kalau menunya ada yang basi gitu. Mana suasananya nggak kondusif banget lagi, untuk makan di tengah malam. Jadi di sana disediakan panggung untuk menyanyi gitu. Ya kalau yang nyanyi bagus sih, nggak papa. Yang nyanyi out of tune, miss lyrics. Saya nggak rekomen juga makan di sini. Tapi kalau untuk pusat oleh-olehnya, lumayan. Saya beli pie susu cening bagus, kacang disko, gantungan kunci, kopi bali (nggak ada faedahnya sih beli ini wkwkwk), sama totebag buat tempat barang. Biar keren gitchu.

Setelah itu, akhirnya kita ke hotel. Hotel Nuansa Indah. Habis ada kasus anak SMP jatuh dari jendela hotel ini, kemudian meninggal. (Bisa googling untuk lebih lengkapnya). Dan ada gossip nggak enak tentang hotel ini. Untungnya kami baru tau kasus tersebut setelah sudah pulang. Jadi kami tenang-tenang aja saat itu. Satu kamar untuk 4 orang, saya bareng Monchan satu kasur (hiiiy), ditemani Een dan Litta di kasur sebelah. Mandi, kemudian bersiap untuk tidur, hitung-hitung mengumpulkan energi untuk esok hari.
Hotel Nuansa Indah, tampak depan.
Sudah dulu ya, part 2-nya. Sampai jumpa di Part 3! Ciao!