Friday, 22 March 2013

Novel-Review; Love Letter to Mr.Arrogant

< Bocah itu dijuluki: Si Pangeran Congkak! Sombong dan tak punya kawan. Tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Hanya ada seorang anak perempuan yang nekat menitipkan cintanya melalui sepucuk surat. Surat yang diselipkan di dalam komiknya ... tak pernah dibuka ...>



Park Jong Hyun, Si Pangeran Congkak yang sedang menempuh studi di Jepang memutuskan untuk menghabiskan liburannya di tanah kelahirannya. Korea Selatan. Ia lalu bertemu dengan Lee Yeon Soo, gadis tetangga sebelah yang selalu ia lihat melalui balkon rumahnya. 

Yeon Soo bertanya-tanya dalam hatinya, apakah itu Jong Hyun yang dahulu? Jong Hyun, anak rumahan yang congkak dan tidak peduli pada keadaan sekitar? Tapi, mengapa sifatnya kini berubah? Menjadi seorang yang ramah dan dikagumi oleh pengunjung toko bunga tempat bekerja Yeon Soo. Yeon Soo tidak yakin.

Lalu Jong Hyun menemukan sebuah surat cinta di laci mejanya yang masih terlipat rapi. Sebenarnya.. Surat cinta itu dari siapa? Apakah dari gadis tetangga sebelah?

Tiga bintang deh buat novel ini. Penataan bahasa dari Ashter Joon yang menarik, tapi mungkin ada beberapa poin yang luput. 

 as we know that di Korea Selatan jarang sekali ada orang yang memiliki rumah pribadi, bukan apartemen. Dan yang paling menonjol , disini banyak sekali kalimat sejurus kemudian

Belum puas rasanya kalau belum baca sampai selesai. Ini salah satu novel yang tergolong easy-reading tapi bikin penasaran yang dapat diselesaikan dalam satu malam. 

About Ashter Joon~

Love Letter to Mr.Arrogant adalah novel kedua penulis setelah Annyeonghaseyo, Cinta! Sebagai informasi, penulis yang berasal dari Kendal ini adalah penyuka musik bergenre Kpop, Jazz, Instrument. Hobinya adalah mendengarkan musik, menulis dan Kpop. Penulis bisa dihubungi di twitternya, @ashterjoon.
Lebih jelasnya, klik disini.

Sekian review buruk dari saya. Selamat Weekend!


Heran, Bingung, Senang--Atau Apa Namanyalah Itu..

Akhir-Akhir ini sering parno.. 
"Salah siapa suka dengerin cerita horor dan denger lagu Lingsir Wengi"

Terjebak diantara persepsi "Mandi pake air hangat itu kayak anak kecil" dan "Mandi pake air dingin justru udah nggak zaman".

Entahlah. Bulan Maret sudah hampir habis, sedangkan dulu pernah janji kalau mau ikutan lomba cerpen. Deadline tanggal tigapuluh, meanwhile cerita macet di tengah jalan. Atau target lomba  surat tentang air yang hadiahnya lima belas juta. Tapi sampai sekarang nggak pernah kepikiran. 

Apa memang 'gue' kebanyakan target sampe-sampe kesemua targetnya nggak keurus?

Udahlah. Yang lalu biarkan aja berlalu. Mari sambut bulan April yang ceria dengan harapan-harapan baru. 

Dengan target (Yang selalu didoakan disela-sela Adzan dan Iqomah biar dikabulkan) sebagai berikut;
  • Menyelesaikan seperempat targetan novel yang jarang disentuh.
  • Bertemu dengan nilai yang gemuk gemuk.
Such a simple target. Maybe. 
But pencapaiannya itu. 
Yang baca, doakan ya!!! 

Sekian curahan hati labil di hari Jumat.

Saturday... I'm coming~ 

Monday, 11 March 2013

Haru dan Aku: We Are One!


Haru, dalam bahasa Jepang berarti musim semi. Dalam bahasa korea artinya hari. Sedangkan dalam bahasa Indonesia sendiri artinya turut terlarut dalam kesedihan atau kesenangan seseorang. Nah, maksud ‘Haru’ yang satu ini apa, ya? Apa mungkin, Penerbit yang lahir pada musim semi, lalu melewati hari-hari dengan penuh keharuan? Ah ini ngaco.

Memang sih, baru kenal penerbit haru kira-kira dua-tiga bulan. Tapi, rasanya udah kayak kenal lama banget sama penerbit haru ini. Dari pertama beli novel Oppa&I seri pertama, udah jatuh hati sama penerbit haru. Jatuh hati di kovernya yang unyu unyu cute, font-nya yang cocok, and many more. Habis  tahu ada sequel Oppa&I, langsung baca dan akhirnya tertarik dengan novel-novel Haru yang lain.
Lalu lanjut baca Cheeky Romance dan—lagi lagi—jatuh hati sama penerbit haru. Fyi, Cheeky Romance novel paling bikin greget berdebar-debar, dan bela-belain tidur jam satu malam cuma buat nyelesein Cheeky Romance. Such a my favorite novel on 2012.

Tapi, seperti pepatah nobody’s perfect.. Yang ternyata juga berlaku di penerbit satu ini. Dalam Cheeky Romance dan novel-novel terjemahan lain, kata ‘memunyai’ mungkin bisa diganti menjadi ‘mempunyai’. Pada novel So, I Married the Anti-fan.. kenapa kertasnya buram? Itu membuatku berpikir dua kali sebelum membelinya. Dan juga, masalah font dan beberapa pembatas buku yang sedikit ‘bermasalah’. Dalam novel-novel tipis seperti Oppa&I, it’s ok font-nya kecil. Namun, dalam novel-novel tebal.. penggunaan font yang kecil dirasa kurang cocok. Pada novel Oppa&I pertama, apa memang tidak disertakan pembatas? Di So, I Married the Anti-fan juga pembatasnya kecil dan hampir susah menemukannya kembali ketika diselipkan di tengah-tengah halaman.  Yang terakhir, entah kenapa aku kurang suka kover novel Bi!. Kovernya terlihat terlalu monoton dengan kurang ilustrasi. Tapi, kekurangan-kekurangan haru selalu bisa tertutupi dengan kelebihan-kelebihannya :)

Ada kekurangan, pasti ada juga kelebihan, kan? Begitupun dengan penerbit terfavoritku ini. Kover-kovernya hampir semua menarik, seperti pada novel Ojou! Yang baru terbit akhir-akhir ini. Atau pada kover Oppa&I: Love Missions. Walaupun kaki-kaki mereka terlihat sangat jenjang dan dengan tubuh kurus kurus, menurutku kovernya sangat menggambarkan isinya. Penulis-penulis haru juga terbukti semua berkualitas, semua novel haru yang aku baca rata-rata bikin aku kesengsem(?) Novel terjemahan dan novel lokal pun disini sama sama bersaing, kalau aku misalkan, Kim Eun Jeong vs Lia Indra Andriana. They all a great writer !  Dan yang paling disukai member-member penerbit haru, penerbit haru sering adain kuis walaupun aku nggak pernah menang saat haru mengadakan kuis.

Harapanku untuk penerbit haru, kedepannya.. Menerbitkan novel-novel terjemahan Kim Eun Jeong lebih banyak (yang ini maksa),  kovernya lebih cute&adorable lagi, pendistribusian tambah merata (fyi, novel Bi! Sampai saat ini di toko buku kotaku belum ada L padahal pengin cepet-cepet baca), terus menerbitkan novel dari karya penulis berkualitas, admin-adminnya lebih aktif lagi dan terus berkreasi. Suatu saat juga sebenarnya aku ingin bergabung dengan penulis-penulis haru, semoga bisa tercapai. Ah iya, sering-sering mengadakan kuis gratis juga karena member-member haru suka banget yang namanya gratisan. Termasuk aku.  

Semoga Penerbit Haru adalah penerbit termashyur di kemudian hari yang karya-karyanya akan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

And the last.. Kenapa penerbit haru hanya menerima naskah dari umur lima belas tahun ke atas? Aku juga ingin karyaku diterbitkan oleh penerbit haru. Penerbit haru.. Daebak!! Jjang!!

 


Saturday, 9 March 2013

Angkutan Umum; Antara Merakyat atau (memang) Rakyat Jelata?



Menjadi seorang pelajar tentu tidak lepas dari kendaraan yang bernama angkutan—atau lebih sering kita sebut dengan angkot. Bagi kita-kita yang belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri, tidak punya, tidak ada orang yang bisa mengantar-jemput.. Tentunya Angkot ini adalah alat transportasi alternatif yang diminati oleh kaum pelajar karena harganya yang relatif murah.

Tapi tentunya dibalik sesuatu pasti ada suka dan dukanya, bukan?

Yang saya suka ketika menaiki angkot ini adalah, angkot ini memiliki banyak surprise tak terduga. Pernah suatu kali saya bertemu dengan teman satu SD dulu—and see, I’m so excited about that. Atau, paling tidak bertemu dengan orang-orang yang menarik.

Tapi, tampaknya lebih banyak hal yang saya benci. Yang pertama, apabila menunggu ‘si’ Angkot ini terlalu lama sementara saya sudah dikejar waktu. Kedua, ketika angkot ramai—yang didominasi para pelajar—dan see, saya harus bermandi keringat campuran para pelajar. Ugh.. Atau ketika angkutan sepi peminat, alias hanya sedikit penumpang. Sang supir akan sangat santai menyetir, oke. Kalau sedang tidak terburu-buru mungkin tidak akan menyebalkan. Tapi, apabila saya terburu-buru dan si supir masih dengan woles-nya menyetir sambil nge-tem berlama-lama.. Itu pantas, kan disebut menyebalkan? Atau ketika ada penumpang yang ngomel-ngomel karena angkot nggak jalan? Dan yang paling menyebalkan adalah, ketika saya sebagai penumpang dioper-oper ke angkot lain karena berbagai alasan si supir.

Dari Angkot pula-lah saya belajar banyak hal. Belajar untuk saling tolong menolong, ketika seorang nenek tua renta dengan susah memindahkan dagangannya yang berat untuk dinaikkan ke angkot. Masa iya kita mau duduk diam dan hanya melihat? Tentu enggak dong. Lalu, ketika ada ibu-ibu dengan anak kecil yang rewel.. Ada baiknya kalau kita pasang tampang sok imut, atau paling enggak, ngajakin si adik main Ciluk Ba…

Nggak mau naik Angkot karena gengsi? Wah, gengsi itu rasa yang cukup mengganggu ya. Kalau pengin hemat dan merakyat, Angkot inilah jalannya. Buang jauh-jauh gengsi itu. Daripada nggak dijemput, lebih baik naik Angkot kan?

Yah, sebenernya ini curcol saya sih karena hari ini harus naik tiga Angkot berturut-turut untuk sampai ke rumah. Ngeselin? Iya. Capek? Of course. Tapi, seru juga.

So, jangan gengsi buat naik Angkot ya Guys^^~ Naik angkot itu bukan berarti rakyat jelata yang kamseupay itu kok.. Naik Angkot itu  kayak Menembus Atmosfir Berlapis-lapis.. Meluncur Bareng Paus Akrobatis, Menuju Rasi Bintang Paliiiiing Manis ^__^ 

Friday, 8 March 2013

Novel-Review; Another Idol



Judul: Another Idol

Penulis: Delia Angela

Penerbit: elf books

Terbit: Agustus 2012

Harga: Rp33.000,00,-

ISBN: 978-602-19335-1-0

(From Popular Online Novel on Twitter)

Bagaimana perasaanmu bila menonton konser boyband idolamu dan diajak langsung oleh salah satu membernya untuk ke belakang panggung untuk bertemu langsung secara ekslusif dengan mereka? Seperti itulah yang dialami oleh Jooyeon.

Jooyeon yang mengidolakan Jongwoon—salah satu member Perfect Ten—justru diajak ke belakang stage oleh Jinho. Jooyeon mau tidak mau akhirnya menuju stage belakang. Tapi, kejutan selalu bertebaran di mana-mana. Saat Jinho mengenalkan Jooyeon pada member-member lain, Junsu—leader dari Perfect Ten—justru mengatakan bahwa Jooyeon adalah wanita yang dipilihkan ayahnya untuk dijodohkan dengannya.

Setelah pertemuan tidak diduga tersebut, lambat laun Jooyeon menjadi akrab dengan Jinho. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sementara itu di sisi lain, Junsu secara sembunyi-sembunyi mulai menaruh hati dengan Jooyeon. Jooyeon mulai dibenci oleh P-Ten—nama fans dari Perfect Ten—dan disaat itu, ia hanya ingin untuk kembali lagi ke kehidupan normalnya. Tanpa Perfect Ten, tanpa Junsu, tanpa Jinho. Oh, kenapa masalah kecil selalu bercabang-cabang sehingga menjadi masalah besar? Jooyeon benci itu. Keadaannya rumit.

Bagaimanakah kehidupan Jooyeon selanjutnya?

Apakah ia tetap dibenci oleh P-Ten?

Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Jinho? Atau justru berpaling dan mencintai Junsu?

Olala, takdir memang penuh dengan kejutan.

Begitu juga di dalam novel ini. Delia Angela meramu novel ini dengan sedemikian rupa sehingga membuatnya penuh dengan kejutan. Belum afdol rasanya jika belum menyelesaikan novel ini hingga halaman terakhir.

(Untuk informasi; Novel ini adalah side story dari novel Perfect Ten yang lebih dulu diterbitkan, jadi kalau mau lebih lengkap lagi.. Yuk baca Perfect Ten juga^_^)

Such a Great Novel what makes me kesengsem (?)^^ 

Novel-Review; The Bliss Bakery Trilogy #1


 Judul: The Bliss Bakery Trilogy #1

Penulis: Kathryn Littlewood

Penerbit: Noura Books

Genre: Humor-Fantasi

Terbit: November 2012

Tebal: 308 Halaman

Harga: Rp49.500,00,-

ISBN: 978-979-433-690-8

Musim panas itu, Rosemary Bliss melihat ibunya mengaduk halilintar ke dalam semangkuk adonan dan semakin yakin bahwa orangtuanya menggunakan sihir di Toko Roti Bliss. Rahasianya ada pada sebuah buku resep Bliss Cookery Booke. Namun, apa jadinya jika Rose dan Ty memutuskan bereksperimen dengan beberapa resep saat orangtua mereka pergi? Yah, beberapa Muffin Asmara dan Cookie Kebenaran sepertinya tak akan menimbulkan masalah,bukan? 

"Lezat dan sangat lucu"—Wall Street Journal 

Rosemary Bliss adalah anak kedua dari pasangan pembuat roti termasyhur di kotanya—Purdy dan Albert Bliss. Dari ketiga saudaranya, Rosemary adalah satu-satunya anak yang mewarisi bakat ayah dan ibunya.

Tapi toko roti Bliss memang tidak seperti toko roti biasa, ternyata Keluarga Bliss memiliki buku roti sihir yang diwariskan secara turun-temurun oleh buyut-buyut mereka. Dan keyakinan itu semakin kuat ketika Rosemary mendapati ayah-ibunya dapat menyembuhkan segala macam penyakit dengan sebuah kue.

Tentu saja bahan yang diperlukan bukan bahan biasa, terkadang Albert dan Purdy memerlukan bahan yang tidak lazim seperti Angin pertama musim panas atau petir di bukit tertinggi.

 Namun orang tuanya merahasiakan hal ini pada semua anak-anaknya, tidak terkecuali untuk Rosemary. Mereka bahkan tidak mengizinkan anak-anak mereka untuk sekadar menyentuh buku masak sihir itu.

Keadaan berbalik ketika Purdy dan Albert dipanggil untuk menuntaskan masalah kesehatan di kota tetangga. Rosemary menjadi pemegang kunci lemari buku masak sihir tersebut dan ditambah dengan kehadiran Lily yang mengaku sebagai bibi jauh mereka.

Akankah Rosemary berani mengambil buku tersebut?

Siapakah sebenarnya Lily—yang mengaku-ngaku sebagai Bibi jauh anak-anak Albert?

Diramu dengan apik oleh Kathryn Littlewood yang berprofesi sebagai Penulis yang merangkap aktris, komedia dan bon vivant di New York membuat pembaca sulit berhenti membaca sebelum rampung. Novel terjemahan ini pertama kali diterbitkann oleh Noura Books pada November 2012. Sangat cocok untuk pembaca yang menyukai novel bergenre Humor-Fantasi.

The Bliss Bakery Trylogy #1 adalah seri pertama yang akan berlanjut ke seri kedua—So, jangan lupa ingatkan saya untuk membuat reviewnya yang kedua :p 

Tuesday, 5 March 2013

8 month in Ar Rohmah

Waktu itu berlalu dengan cepat
Yup, rasanya kata-kata itu bener banget.. Mengingat jika waktu selama delapan bulan itu cepet banget. Ya, delapan bulan. Delapan bulan di kelas delapan. Satu tahun delapan bulan di Sekolah Menengah Pertama. Delapan bulan penuh warna.

Kalau ibu hamil delapan bulan itu udah berkembang(?) Nah, kalau delapan bulan yang ini lain lagi. Delapan bulan ini sama sekali nggak berkembang. Berkembang dalam konteks kecerdasan, kegaulan(?) dan lain lain. Mulai dari masalah yang rasanya nggak pernah berhenti, kecerdasan yang nggak nambah nambah dan persoalan rumit lainnya. Tapi, sadar nggak sadar persoalan-permasalahan itulah yang membuat hari-hari selama delapan bulan ini lebih berwarna.

Awal-awal kelas delapan (Sekitar bulan Juli-September) itu rasanya bener-bener monoton. Gitu-gitu aja. Kelas kita (Ar Rohmah) emang bukan dikenal sebagai kelas yang heboh seperti kelas lain,  tapi kelas kita itu ya kaya punya keistimewaan tersendiri. Sampai akhirnya, masa-masa kejayaan tersebut tiba. Kami memenangkan kejuaraan kebersihan sesekolah. Emang sih kelihatannya biasa banget, tapi ya bagi kami yang baru sekali ini menang, apa itu nggak termasuk luar biasa? Lalu berlanjut dengan classmeeting. Kami memang nggak memenangkan lombanya, tapi kami berusaha untuk menjadi supporter terheboh. Kita nggak peduli mau dikira gila atau bagaimana, yang jelas saat itu kita berjuang banget biar dapetin juara itu. Hasilnya? Berbuah manis :) Kita berhasil mengalahkan kelas sebelah yang notabenenya kelas ter-rusuh. 

Nggak berhenti di situ aja, ah iya.. Waktu awal-awal juga kami sempat memenangkan Juara 3 lomba desain kelas. Masih ingat jelas, waktu itu ada temen kayak "Kalau kita nggak menang, copotin aja yuk desain-nya" Tapi ternyata menang, walau cuma juara tiga tapi itu berkesan banget bagi kita. Dan itu mulai klimaks-klimaksnya kita ngerasain satu. Satu dalam artian satu jiwa, satu raga, saling melengkapi dan saling membutuhkan. 

Lalu dilanjut dengan Open-House, Pulang sore, latihan lomba, desain bazaar dan njagain bazaar. Guys, itu Open House terakhir kita di SMP. Ah, jadi klise. Saat team assembly kita tampil dan kita yang nonton heboh sendiri tepuk tangan dan nyanyi-nyanyi.. Itu indah banget, beneran :)) 



Tapi hidup nggak selamanya lancar. Ya, begitupun kebersamaan kami. Kadang-kadang ada 'konflik' kecil yang menyebabkan kesatuan kami sedikit retak, tapi selama kita berpikir "Konflik itu adalah sesuatu yang akan kita tertawakan di kemudian hari" ,masalah nggak akan bertambah beban. 

Dengan tiga puluh empat bintang, dua matahari... Semoga kebersamaan kita nggak akan berakhir. Tiga puluh empat murid, dan dua wali kelas kami yang senantiasa menyinari kami. Ar Rohmah... Yang akan dikenang..