Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dirgantara
Tebal: 270 halaman
Tahun Terbit: 2003
Rating (By Ajeng): 4/5
"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini."
"Kita tak mengerti perangai bendoro-bendoro, nak. Kita tak ngerti."
Gadis Pantai yang masih berumur 14 tahun dibawa ke kota untuk dikawinkan dengan Bendoro di kota, meninggalkan kampung nelayan, meninggalkan emak dan bapak, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang membuat tangannya kasar.
Tidak ada perayaan atas perkawinannya, tidak ada pesta barang sekecil pun. Gadis pantai hanyalah budak sahaya yang dikawinkan dengan priyayi. Dikawinkan dengan bendoro, tidak lantas serta-merta menjadi nyonya bendoro. Bendoro akan dianggap masih bujang apabila ia belum beristri seorang priyayi seperti statusnya.
Beruntung Gadis Pantai memiliki seorang pelayan tua yang sehari-hari bersedia untuk mendongengi Gadis Pantai. Naas, sebuah kejadian membuat si Mbok, pelayan Gadis Pantai, didepak dari kediaman bendoro, berhenti melayani Gadis Pantai. Gadis Pantai belajar banyak dari si Mbok, dari dongeng-dongeng dan cerita hidup yang tiap saat dilantunkan si Mbok.
Dikelilingi dinding-dinding di kediaman bendoro, Gadis Pantai merasa kesepian. Ia rindu dengan emak, bapak, dan kampungnya. Ia rindu kesederhanaan yang lebih pantas disebut kemiskinan di kampung nelayan. Ia rindu deburan ombak yang mengantarkan perahu bapak melaut.
***
Subuh hari waktu ia terbangun, didengarnya suara Bendoro yang sedang mengaji. Suamiku! Ah, suamiku! Tidak, dia bukan suamiku, dia Bendoroku, yang dipertuanku, rajaku. Aku bukan istrinya. Aku cuma budak sahaya yang dihina-hina.
***
Sebuah roman unfinished karya Pramoedya Ananta Toer, mengupas mengenai kehidupan pelik seorang sahaya, serta kemewahan yang hanya dapat dicecap oleh kaum priyayi. Tiadalah arti disandingkan dengan seorang priyayi jikalau hanya seorang sahaya, tidak lebih.
Sangat disayangkan karena sebetulnya roman ini merupakan trilogi. Dua buku lanjutan Gadis Pantai aib ditelan keganasan kuasa, kepicikan pikir, dan kekerdilan tradisi aksara. Bahkan Gadis Pantai tidak akan sampai ke tangan para pembaca jika pihak Universitas Nasional Australia di Canberra tidak mendokumentasikannya lewat mahasiswa yang mengambil tesis seputar proses kepengarangan Pramoedya di tengah golak budaya dan kuasa.
Roman yang menyinggung feodalisme Jawa ini membuka mata saya. Orang biasa pada zaman dahulu adalah sama dengan budak. Membaca ini, membuat saya berandai-andai, siapakah saya bila hidup pada masa kolonialisme? Apakah saya juga menjadi korban kekejaman Daendels?
4/5 untuk buku yang membuat saya merinding. Nasib tidak mengantarkan Gadis Pantai kepada kehidupan yang lebih baik lagi. Takdir manusia siapa yang tahu.
***
"Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini...
Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi...
Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang
berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan."
—Pramoedya Ananta Toer






No comments:
Post a Comment