Sunday, 17 June 2012

Ah, Ini Terlalu..



            “Hei, Evie..kesini,”panggil temanku — aku tak tahu siapa itu---. Dengan sigap aku segera menuju ke arah suara. Ternyata Dika. “Ada apa, Ka?” aku mendekatinya. Dika mengamankanku ke tempat yang lebih aman —entah apa maksudnya, — aku hanya diam dalam kebingungan. “Kau mau coba?” tanyanya menyodorkan sebuah bungkusan. Aku tahu itu. “Apa itu?” aku berpura-pura. “Oh, aspirin ya?” aku sengaja meninggikan nada suaraku. “sssttt..” katanya. “Apa itu tidak berbahaya?” tanyaku lagi. “Kalau berbahaya, mana mungkin aku masih ada?” jawabnya santai. “Astaga! Dika, sejak kapan kau menjadi pecandu?” aku memasang wajah terkejut yang sebenarnya tidak. “Dua tahun lalu,” jawabnya. “Oh,” aku berlalu sambil melemparkan bungkusan itu ke wajah Dika. Tak baik berlama-lama dengan pecandu.
            Esoknya, perhatianku penuh tertuju pada seorang Dika. Kuperhatikan tingkah lakunya selama di sekolah. Dan astaga! Dia juga perokok. Sungguh tak terkira. Radika Widianto, manusia yang berpenampilan sekenanya (bukan seadanya). Seragam kusut, kumal dan kucel, wajah kuyu, mata sayu, rambutnya  sempongan—ini yang aku herankan—ke kanan. Tapi siapa yang peduli? Kuperhatikan lagi logat bicaranya, dia ber-lo-gue dengan lawan bicaranya, ahiya, bahasa anak terminal pun ia gunakan. Oh! Lidahnya bertindik. Dan teman-teman tidak banyak yang bersedia dekat-dekat dengannya.
            Penasaran, sepulang sekolah aku mengajak Shita untuk memata-matai Dika, setelah sebelumnya ia kuceritakan panjang lebar mengenai Dika. Ia terkejut bukan main. Ah, mari lupakan keterkejutan Shita. Kami mengendap-endap menyusuri lorong mengikuti Dika. Ternyata ia tidak pulang ke rumah, melainkan ke markasnya. Aku mengintip, isinya anak-anak punk. “Uhuk,” tiba-tiba Shita terbatuk karena banyaknya asap rokok yang memenuhi ruangan. Aku merinding. “Siapa di sana?” kata salah seorang dari mereka. Dari balik tembok aku menyamar menjadi kucing, “miaw,” —sebuah suara yang terlalu dibuat-buat—. Mereka mengacuhkanku akhirnya, suatu hal yang bagus. Lalu giliranku terkejut karena melihat puluhan botol jack daniels dan grendy bertebaran dilantai, kartu remi, segepok uang dan ratusan bungkus rokok. Ppwwhh! Untungnya mereka masih mengacuhkan kami seperti tadi. Aku bernapas lega. Ah, mungkin ini memang sudah waktunya untuk menyudahi menjadi mata-mata gadungan. Bersama Shita aku kembali menyusuri lorong-lorong ntuk dapat kembali ke rumah (masing-masing).
            Hari kedua setelah penawaran barang haram itu. Ah.. pengalaman yang tidak terlupakan. Mimpi buruk lebih tepatnya. Dan gosh! Aku berangkat terlalu siang dan tempat duduk yang tersedia hanyalah di samping Dika. Aku berkeringat seketika, untungnya ia mengacuhkanku. Ia tengah menghisap rokok, dan aku sangat membenci benda bodoh itu. “Bisa tolong matikan rokoknya?” aku berusaha sopan di depannya, jangan main-main dengan Dika, sekali berucap, satu jitakan siap mendarat di kepalamu. “Pergi saja bila kamu tidak berkenan dengan rokokku. Aku menikmatinya, apa hakmu melarang aku merokok?” ia nyolot. “Oke, aku pergi. Dan kuharap kau sudah mematikan rokokmu saat aku kembali lagi,” dengan jengkel aku berkata. Aku mencoba untuk tidak memancing emosinya. “Tidak janji,” balasnya ringan. Dasar sialan!
            Dan seperti dugaanku, ia sudah mengganti batang rokoknya saat aku kembali. Dia tersenyum licik, aku mengeluarkan sapu tanganku untuk menghindari asap rokoknya. Pelajaran baru saja dimulai, sedangkan ia masih asyik dengan benda sialan itu diantara telunjuknya dan jari tengahnya. “Siapa yang merokok saat pelajaran?” Tanya pak Edi garang. Dengan lantang aku menjawab, “Dika, Pak,” sekak mat! Mati kau! , teriakku dalam hati. “Matikan atau keluar?” tawar pak guru. Tatapannya menatap tajam ke arah Dika. Rasakan! “m-m-matikan , Pak,” jawab Dika. Ia segera mematikan rokok sialannya, sementara aku menatap penuh senyum kemenangan kepadanya. Ia mencibir.
            Siang itu aku kembali memata-matai Dika, aku mendapatinya pergi ke tukang tindik sebelum ke markasnya. Astaga! Dia menindik telinga kirinya! Sungguh terlaknat. Dan setelah proses penindikan itu—yang aku tidak berani melihatnya—, ia pergi ke sebuah warung makan. Meminta secara paksa makanan dan memalak orang-orang yang sedang makan, lalu sambil setengah berlari menuju markasnya. Ahiya! Sebelum pergi ke markas sempat aku mendapati sebuah kejadian menarik. Seorang pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja biru kotak-kotak dan celana jeans biru, secara sengaja menabrak tubuh Dika sembari menjatuhkan sesuatu. Lalu Dika mengambil ‘sesuatu’ itu dan pria itu berlalu, mereka berlagak saling tidak kenal satu sama lain. Aku sudah mengetahui gelagatnya tersebut. Dika cepat-cepat memasukkan ‘sesuatu’ itu—yang ternyata adalah sebuah bungkusan berplastik hitam—ke dalam tas punggungnya. Aku mencurigainya penuh benda itu adalah narkoba.
            Aku terus mengintainya, ia ke markasnya. Dengan segera Dika membuka bungkusan itu dan memanggil kawan-kawan semarkasnya. Setelah kuamati baik-baik, ternyata bungkusan itu adalah berisi ratusan pil ekstasi. Astaga! Aha! Pesta ekstasi rupanya akan segera dilaksanakan dalam markas pengap itu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan brilian itu, aku segera menelepon polisi untuk segera ke markas dengan menambhkan agar mereka mematikan sirine mobil polisi sehingga mereka tidak kabur melarikan diri. Dan pihak kepolisian pun menyetujuinya. Mereka menyuruhku untuk tetap diam di tempat. Aku mematuhinya. Setelahnya, aku memastikan mereka masih asyik dengan pil-pil haram itu.
            Aku mendengar banyak derap kaki yang menuju ke arahku. Betul, ternyata itu segerombolan polisi yang aku ‘pesan’ tidak lama tadi. Aku menceritakan singkat tentang mereka, dengan suara derap kaki yang dilembutkan, mereka diam-diam menuju ke arah TKP.
            “Saudara telah ditangkap dengan alasan tengah menyandu ekstasi. Mari ikut saya atau saya borgol,” kata salah satu polisi tegas. Mereka mengepung mereka sehingga mereka tidak dapat kemana-mana. Bagus! Ah, aku baru ingat. Ruangan ini bertingkat, aku segera member tahu seorang polisi bahwa ada kemungkinan besar masih ada sebagian orang munafik lain di rumah ini. Dan ternyata benar, ada tiga gadis di dalam sana. Mereka segera memborgol semua pelaku. Termasuk Dika. Sejenak, aku melirik ke arahnya, aku melempar sesungging senyum kepadanya. Ia tidak membalasnya, ekspresinya tidak jelas, antara sedih dan marah.
            Jumlah pelaku ternyata lebih dari yang aku perkirakan, semuanya berjumlah Sembilan orang. Penggerebekan ini sukses ternyata.. “ternyata kau yang kabur dari penjara sebuln yang lalu rupanya, hah!” pelotot salah satu polisi pada seorang pelaku. Mereka semua segera dinaikkan ke mobil polisi. “Adik, mari ikut saya ke kantor,” kata seorang polisi. Aku diajaknya ikut serta. Aku mengangguk sopan.
            Aku segera menelepon ibu, izin untuk pulang lebih siang karena suatu urusan. Syukurlah ibu mengizinkanku.
            Sesampainya di kantor, para pelaku segera diinterogasi sedangkan aku ditempatkan di ruangan lain. Entah apa maksudnya. “Terima kasih atas jasa Adik, Adik sudah berjasa membantu kami memberantas kejahatan. Sebagai imbalannya, ini ada bingkisan dari kami,” kata ibu polisi itu ramah, tidak diramah-ramahkan seperti polisi kebanyakan. Kulihat bajunya, ternyata namanya Briptu Kartikaningsih. “Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu. Ah, tidak prlu,” jawabku sungkan dengan logat berusaha disopankan. “Tidak apa, terimalah. Pihak kepolisian memang sudah menyediakan banyak bingkisan seperti ini untuk pahlawan cilik seperti Adik. Jangan sungkan,” katanya. Oi! Umurku sudah 14, apakah itu masih pantas untuk disebut ‘cilik’? Ah, lupakan. “Terima kasih, Bu,” jawabku lagi. “Ah iya, siapa nama adik?” Tanya Briptu Kartika lagi. “Eviena Puspitasari. Panggil saya Evie,” kataku sopan. “Senang berkenalan dengan Adik. Saya Briptu Kartikaningsih,” Briptu Kartika menjabat tanganku. “Di masa seperti sekarang, kami membutuhkan banyak pahlawan seperti Adik. Kami sangat berterima kasih atas apa yang Adik lakukan,” aku hanya mengangguk-angguk sopan. Setelah berbasa-basi ala polisi sebentar, aku segera berpamitan. Segera aku pulang menaiki angkutan umum.
            Sesampainya di rumah, aku segera bercerita panjang lebar kepada ibu. Mulai dari penawaran aspirin sampai penggerebekan. Ibu terpaku menatapku tidak percaya atas apa yang aku lakukan. Aku pun menjelaskan alasan mengapa akhir-akhir ini aku sering pulang terlambat. Ya, aku memata-matai Dika. Ibu lalu memelukku bangga. Ah, senangnya..
            Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun dengan kecepatannya mengubah tahun. Kabar terakhir yang aku dengar, Dika ditempatkan di panti rehabilitasi khusus untuk remaja yang bermasalah dengan narkoba. Kabarnya, ia melepas tattonya dan tindiknya dengan sukarela. Aku tersenyum lebar mendengarnya. Dan usut punya usut, ternyata ayah Dika sudah meninggal sejak Dika berumur  dua tahun karena tertimpa proyek bangunan yang sedang dikerjakan beliau. Dan ibu Dika tengah berjuang menjadi TKW di Taiwan. Oh, Ternyata begitu. Kabarnya lagi, ia kini menjadi imam masjid tempatnya di rehabilitasi.
            Nah, begitu kan bagus.. tidak harus berkutat dengan narkoba dahulu untuk menjadi imam masjid. Dari sekarang pun bias J akhir kata, say no to drugs! Lekas-lekaslah katakana TIDAK pada siapapun dan dimana pun yang menawarimu benda mencurigakan, a.k.a Narkoba.. teruslah berkarya, tidak harus dengan narkoba. Masa depan yang cerah siap menantimu J

No comments:

Post a Comment