“Hei, Evie..kesini,”panggil temanku
— aku tak tahu siapa itu---. Dengan sigap aku segera menuju ke arah suara.
Ternyata Dika. “Ada apa, Ka?” aku mendekatinya. Dika mengamankanku ke tempat
yang lebih aman —entah apa maksudnya, — aku hanya diam dalam kebingungan. “Kau
mau coba?” tanyanya menyodorkan sebuah bungkusan. Aku tahu itu. “Apa itu?” aku
berpura-pura. “Oh, aspirin ya?” aku sengaja meninggikan nada suaraku.
“sssttt..” katanya. “Apa itu tidak berbahaya?” tanyaku lagi. “Kalau berbahaya,
mana mungkin aku masih ada?” jawabnya santai. “Astaga! Dika, sejak kapan kau
menjadi pecandu?” aku memasang wajah terkejut yang sebenarnya tidak. “Dua tahun
lalu,” jawabnya. “Oh,” aku berlalu sambil melemparkan bungkusan itu ke wajah
Dika. Tak baik berlama-lama dengan
pecandu.
Esoknya, perhatianku penuh tertuju
pada seorang Dika. Kuperhatikan tingkah lakunya selama di sekolah. Dan astaga!
Dia juga perokok. Sungguh tak terkira. Radika Widianto, manusia yang
berpenampilan sekenanya (bukan seadanya). Seragam kusut, kumal dan kucel, wajah
kuyu, mata sayu, rambutnya sempongan—ini
yang aku herankan—ke kanan. Tapi siapa yang peduli? Kuperhatikan lagi logat
bicaranya, dia ber-lo-gue dengan
lawan bicaranya, ahiya, bahasa anak terminal pun ia gunakan. Oh! Lidahnya
bertindik. Dan teman-teman tidak banyak yang bersedia dekat-dekat dengannya.
Penasaran, sepulang sekolah aku
mengajak Shita untuk memata-matai Dika, setelah sebelumnya ia kuceritakan
panjang lebar mengenai Dika. Ia terkejut bukan main. Ah, mari lupakan
keterkejutan Shita. Kami mengendap-endap menyusuri lorong mengikuti Dika.
Ternyata ia tidak pulang ke rumah, melainkan ke markasnya. Aku mengintip,
isinya anak-anak punk. “Uhuk,”
tiba-tiba Shita terbatuk karena banyaknya asap rokok yang memenuhi ruangan. Aku
merinding. “Siapa di sana?” kata salah seorang dari mereka. Dari balik tembok
aku menyamar menjadi kucing, “miaw,” —sebuah suara yang terlalu dibuat-buat—.
Mereka mengacuhkanku akhirnya, suatu hal yang bagus. Lalu giliranku terkejut
karena melihat puluhan botol jack daniels
dan grendy bertebaran dilantai,
kartu remi, segepok uang dan ratusan bungkus rokok. Ppwwhh! Untungnya mereka
masih mengacuhkan kami seperti tadi. Aku bernapas lega. Ah, mungkin ini memang
sudah waktunya untuk menyudahi menjadi mata-mata gadungan. Bersama Shita aku kembali menyusuri lorong-lorong ntuk
dapat kembali ke rumah (masing-masing).
Hari kedua setelah penawaran barang
haram itu. Ah.. pengalaman yang tidak terlupakan. Mimpi buruk lebih tepatnya.
Dan gosh! Aku berangkat terlalu siang
dan tempat duduk yang tersedia hanyalah di samping Dika. Aku berkeringat
seketika, untungnya ia mengacuhkanku. Ia tengah menghisap rokok, dan aku sangat
membenci benda bodoh itu. “Bisa tolong matikan rokoknya?” aku berusaha sopan di
depannya, jangan main-main dengan Dika, sekali berucap, satu jitakan siap
mendarat di kepalamu. “Pergi saja bila kamu tidak berkenan dengan rokokku. Aku
menikmatinya, apa hakmu melarang aku merokok?” ia nyolot. “Oke, aku pergi. Dan
kuharap kau sudah mematikan rokokmu saat aku kembali lagi,” dengan jengkel aku
berkata. Aku mencoba untuk tidak memancing emosinya. “Tidak janji,” balasnya
ringan. Dasar sialan!
Dan seperti dugaanku, ia sudah
mengganti batang rokoknya saat aku kembali. Dia tersenyum licik, aku
mengeluarkan sapu tanganku untuk menghindari asap rokoknya. Pelajaran baru saja
dimulai, sedangkan ia masih asyik dengan benda sialan itu diantara telunjuknya
dan jari tengahnya. “Siapa yang merokok saat pelajaran?” Tanya pak Edi garang.
Dengan lantang aku menjawab, “Dika, Pak,” sekak
mat! Mati kau! , teriakku dalam hati. “Matikan atau keluar?” tawar pak
guru. Tatapannya menatap tajam ke arah Dika. Rasakan! “m-m-matikan , Pak,” jawab Dika. Ia segera mematikan rokok
sialannya, sementara aku menatap penuh senyum kemenangan kepadanya. Ia
mencibir.
Siang itu aku kembali memata-matai
Dika, aku mendapatinya pergi ke tukang tindik sebelum ke markasnya. Astaga! Dia
menindik telinga kirinya! Sungguh terlaknat. Dan setelah proses penindikan
itu—yang aku tidak berani melihatnya—, ia pergi ke sebuah warung makan. Meminta
secara paksa makanan dan memalak orang-orang yang sedang makan, lalu sambil
setengah berlari menuju markasnya. Ahiya! Sebelum pergi ke markas sempat aku
mendapati sebuah kejadian menarik. Seorang pria bertubuh tambun yang mengenakan
kemeja biru kotak-kotak dan celana jeans biru,
secara sengaja menabrak tubuh Dika sembari menjatuhkan sesuatu. Lalu Dika
mengambil ‘sesuatu’ itu dan pria itu berlalu, mereka berlagak saling tidak
kenal satu sama lain. Aku sudah mengetahui gelagatnya tersebut. Dika cepat-cepat
memasukkan ‘sesuatu’ itu—yang ternyata adalah sebuah bungkusan berplastik
hitam—ke dalam tas punggungnya. Aku mencurigainya penuh benda itu adalah
narkoba.
Aku terus mengintainya, ia ke
markasnya. Dengan segera Dika membuka bungkusan itu dan memanggil kawan-kawan
semarkasnya. Setelah kuamati baik-baik, ternyata bungkusan itu adalah berisi
ratusan pil ekstasi. Astaga! Aha! Pesta ekstasi rupanya akan segera
dilaksanakan dalam markas pengap itu. Aku tidak mau kehilangan kesempatan
brilian itu, aku segera menelepon polisi untuk segera ke markas dengan
menambhkan agar mereka mematikan sirine mobil polisi sehingga mereka tidak
kabur melarikan diri. Dan pihak kepolisian pun menyetujuinya. Mereka menyuruhku
untuk tetap diam di tempat. Aku mematuhinya. Setelahnya, aku memastikan mereka
masih asyik dengan pil-pil haram itu.
Aku mendengar banyak derap kaki yang
menuju ke arahku. Betul, ternyata itu segerombolan polisi yang aku ‘pesan’
tidak lama tadi. Aku menceritakan singkat tentang mereka, dengan suara derap
kaki yang dilembutkan, mereka diam-diam menuju ke arah TKP.
“Saudara telah ditangkap dengan
alasan tengah menyandu ekstasi. Mari ikut saya atau saya borgol,” kata salah
satu polisi tegas. Mereka mengepung mereka sehingga mereka tidak dapat
kemana-mana. Bagus! Ah, aku baru ingat. Ruangan ini bertingkat, aku segera
member tahu seorang polisi bahwa ada kemungkinan besar masih ada sebagian orang
munafik lain di rumah ini. Dan ternyata benar, ada tiga gadis di dalam sana.
Mereka segera memborgol semua pelaku. Termasuk Dika. Sejenak, aku melirik ke
arahnya, aku melempar sesungging senyum kepadanya. Ia tidak membalasnya,
ekspresinya tidak jelas, antara sedih dan marah.
Jumlah pelaku ternyata lebih dari
yang aku perkirakan, semuanya berjumlah Sembilan orang. Penggerebekan ini
sukses ternyata.. “ternyata kau yang kabur dari penjara sebuln yang lalu
rupanya, hah!” pelotot salah satu polisi pada seorang pelaku. Mereka semua
segera dinaikkan ke mobil polisi. “Adik, mari ikut saya ke kantor,” kata
seorang polisi. Aku diajaknya ikut serta. Aku mengangguk sopan.
Aku segera menelepon ibu, izin untuk
pulang lebih siang karena suatu urusan. Syukurlah ibu mengizinkanku.
Sesampainya di kantor, para pelaku
segera diinterogasi sedangkan aku ditempatkan di ruangan lain. Entah apa maksudnya.
“Terima kasih atas jasa Adik, Adik sudah berjasa membantu kami memberantas
kejahatan. Sebagai imbalannya, ini ada bingkisan dari kami,” kata ibu polisi
itu ramah, tidak diramah-ramahkan seperti polisi kebanyakan. Kulihat bajunya,
ternyata namanya Briptu Kartikaningsih. “Sama-sama, Bu. Saya senang bisa
membantu. Ah, tidak prlu,” jawabku sungkan dengan logat berusaha disopankan.
“Tidak apa, terimalah. Pihak kepolisian memang sudah menyediakan banyak
bingkisan seperti ini untuk pahlawan cilik seperti Adik. Jangan sungkan,”
katanya. Oi! Umurku sudah 14, apakah itu masih pantas untuk disebut ‘cilik’?
Ah, lupakan. “Terima kasih, Bu,” jawabku lagi. “Ah iya, siapa nama adik?” Tanya
Briptu Kartika lagi. “Eviena Puspitasari. Panggil saya Evie,” kataku sopan.
“Senang berkenalan dengan Adik. Saya Briptu Kartikaningsih,” Briptu Kartika
menjabat tanganku. “Di masa seperti sekarang, kami membutuhkan banyak pahlawan
seperti Adik. Kami sangat berterima kasih atas apa yang Adik lakukan,” aku
hanya mengangguk-angguk sopan. Setelah berbasa-basi ala polisi sebentar, aku
segera berpamitan. Segera aku pulang menaiki angkutan umum.
Sesampainya di rumah, aku segera
bercerita panjang lebar kepada ibu. Mulai dari penawaran aspirin sampai
penggerebekan. Ibu terpaku menatapku tidak percaya atas apa yang aku lakukan.
Aku pun menjelaskan alasan mengapa akhir-akhir ini aku sering pulang terlambat.
Ya, aku memata-matai Dika. Ibu lalu memelukku bangga. Ah, senangnya..
Hari berganti minggu, minggu
berganti bulan, bulan pun dengan kecepatannya mengubah tahun. Kabar terakhir
yang aku dengar, Dika ditempatkan di panti rehabilitasi khusus untuk remaja
yang bermasalah dengan narkoba. Kabarnya, ia melepas tattonya dan tindiknya dengan sukarela. Aku tersenyum lebar
mendengarnya. Dan usut punya usut, ternyata ayah Dika sudah meninggal sejak
Dika berumur dua tahun karena tertimpa
proyek bangunan yang sedang dikerjakan beliau. Dan ibu Dika tengah berjuang
menjadi TKW di Taiwan. Oh, Ternyata begitu. Kabarnya lagi, ia kini menjadi imam
masjid tempatnya di rehabilitasi.
Nah, begitu kan bagus.. tidak harus
berkutat dengan narkoba dahulu untuk menjadi imam masjid. Dari sekarang pun
bias J
akhir kata, say no to drugs!
Lekas-lekaslah katakana TIDAK pada siapapun dan dimana pun yang menawarimu
benda mencurigakan, a.k.a Narkoba.. teruslah berkarya, tidak harus dengan
narkoba. Masa depan yang cerah siap menantimu J





No comments:
Post a Comment