Cuaca tidak bersahabat, hujan deras
membungkus kota kami selama dua malam berturut-turut. Membuat banyak orang
kebingungan akan kendaraan yang akan mereka gunakan, mobil tidak punya, jas
hujan pun sudah blong sana-sini. Harapan terakhir dijatuhkan pada angkutan umum
yang masih setia, tak sedikit supir yang mogok kerja dengan alasan hujan deras.
Ah, sungguh tidak masuk akal. Herannya, boss-boss mereka membolehkannya. Ah,
mungkin mereka tidak mau ambil pusing. Lihatlah gedung-gedung tinggi di sana, hanya
sedikit pegawai dari keseluruhkan pekerja yang tengah sibuk mengerjakan
pekerjaan. Sementar yang lain, bersantai di rumah bersama anak dan istri.
Hal yang ditakutkan warga urung
hadir. Apalagi kalau bukan banjir? Banjir tahunan, begitu mereka menyebutnya.
Bagi mereka yang sudah terbiasa setiap tahun dengan keadaan air yang menggenang
di pelataran rumahnya, mereka dengan senang hati memakluminya. Namun lain
halnya dengan pendatang baru yang tidak jelas asal-usulnya, mereka akan
kerepotan mengungsikan ini dan itu. Berbeda pula dengan kaum bangsawan (begitu
kaum jelata memanggilnya), yang masa bodoh dengan hal ini, toh mereka sudah
memasang pagar pembatas air agar tidak masuk ke dalam istana mereka.
Anak-anak malas berangkat sekolah,
para pekerja mogok bekerja sementara, para ibu rumah tangga pun kurang bersedia
mengerjakan tugas rumahannya, terlebih pula para pembantu yang menolak bekerja
membuat para majikan kerepotan.
Dan siang ini, banjir resmi
menggenangi kota kami. Baru 30 cm memang, tapi itu cukup membuat orang
kerepotan, kendaraan mogok di jalan, kemacetan yang bertambah parah dan
aktifitas warga yang lumpuh total. Mungkin baru beberapa wilayah, namun lambat
laun akan menyebar ke penjuru kota. Tak ada lagi acara sapu-menyapu pelataran
sembari bergosip bagi ibu-ibu, tak ada lagi suara anak-anak yang bermain di
halaman rumah, semuanya terbungkus air. Tentu saja bukan air yang resik,
melainkanair kotor berwarna cokelat pekat yang sudah tercemar. Dengan cepat
penyakit pun menyebar, diare, pusing berkepanjangan, jamuran dan lain lain.
Yang lebih mencengangkan lagi, para ibu masih saja membiarkan anak-anaknya
berkutat dengan air cokelat itu. Ah, siapa yang mau peduli?
Sore ini kupandang langit, kelabu.
Hari ini memang sekelabu warna langit. Seketika petir menggelegar, membuat
anak-anak berlarian masuk rumah, memeluk ibu masing-masing. Begitu pula aku,
jantungku serasa mau copot mendengarnya. Aku yang sedang termangu di atas atap
rumah kembali masuk rumah mendengar petir tersebut. Para wartawan mulai sibuk
memberitakan keadaan saat ini. Tapi siapa yang mau peduli? Tidak ada yang
berminat memperhatikan televisi.
Dan akhirnya, turunlah rintik
gerimis yang dengan sekejap menjelma menjadi rinai hujan. Lebat. Dan artinya
volume banjir akan segera bertambah, mungkin menjadi satu meter. Fikiranku
melanglangbuana dalam kegelapan rinai hujan, menjadi laying-layang, yang siap
terbang melintasi cakrawala. Bukannya duduk meringkuk menunggu volume banjir
bertambah.





No comments:
Post a Comment