Menjadi seorang pelajar tentu
tidak lepas dari kendaraan yang bernama angkutan—atau lebih sering kita sebut
dengan angkot. Bagi kita-kita yang
belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri, tidak punya, tidak ada orang
yang bisa mengantar-jemput.. Tentunya Angkot ini adalah alat transportasi alternatif
yang diminati oleh kaum pelajar karena harganya yang relatif murah.
Tapi tentunya dibalik sesuatu
pasti ada suka dan dukanya, bukan?
Yang saya suka ketika menaiki
angkot ini adalah, angkot ini memiliki banyak surprise tak terduga. Pernah suatu kali saya bertemu dengan teman
satu SD dulu—and see, I’m so excited
about that. Atau, paling tidak bertemu dengan orang-orang yang menarik.
Tapi, tampaknya lebih banyak hal
yang saya benci. Yang pertama, apabila menunggu ‘si’ Angkot ini terlalu lama
sementara saya sudah dikejar waktu. Kedua, ketika angkot ramai—yang didominasi
para pelajar—dan see, saya harus
bermandi keringat campuran para pelajar. Ugh..
Atau ketika angkutan sepi peminat, alias hanya sedikit penumpang. Sang
supir akan sangat santai menyetir, oke. Kalau sedang tidak terburu-buru mungkin
tidak akan menyebalkan. Tapi, apabila saya terburu-buru dan si supir masih
dengan woles-nya menyetir sambil nge-tem berlama-lama.. Itu pantas, kan
disebut menyebalkan? Atau ketika ada penumpang yang ngomel-ngomel karena angkot
nggak jalan? Dan yang paling menyebalkan adalah, ketika saya sebagai penumpang
dioper-oper ke angkot lain karena berbagai alasan si supir.
Dari Angkot pula-lah saya belajar
banyak hal. Belajar untuk saling tolong menolong, ketika seorang nenek tua
renta dengan susah memindahkan dagangannya yang berat untuk dinaikkan ke
angkot. Masa iya kita mau duduk diam dan hanya melihat? Tentu enggak dong.
Lalu, ketika ada ibu-ibu dengan anak kecil yang rewel.. Ada baiknya kalau kita
pasang tampang sok imut, atau paling enggak, ngajakin si adik main Ciluk Ba…
Nggak mau naik Angkot karena
gengsi? Wah, gengsi itu rasa yang cukup mengganggu ya. Kalau pengin hemat dan
merakyat, Angkot inilah jalannya. Buang jauh-jauh gengsi itu. Daripada nggak
dijemput, lebih baik naik Angkot kan?
Yah, sebenernya ini curcol saya
sih karena hari ini harus naik tiga Angkot berturut-turut untuk sampai ke
rumah. Ngeselin? Iya. Capek? Of course.
Tapi, seru juga.
So, jangan gengsi buat naik
Angkot ya Guys^^~ Naik angkot itu bukan berarti rakyat jelata yang kamseupay itu
kok.. Naik Angkot itu kayak Menembus Atmosfir Berlapis-lapis.. Meluncur Bareng Paus Akrobatis, Menuju Rasi Bintang Paliiiiing Manis ^__^
.jpg)





lumayan menarik...
ReplyDeletengapain gengsi.. setiap hari aja saya ngangkot.. haha :D
hahaha thx udah read&comment :)))
ReplyDelete