Saturday, 9 March 2013

Angkutan Umum; Antara Merakyat atau (memang) Rakyat Jelata?



Menjadi seorang pelajar tentu tidak lepas dari kendaraan yang bernama angkutan—atau lebih sering kita sebut dengan angkot. Bagi kita-kita yang belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri, tidak punya, tidak ada orang yang bisa mengantar-jemput.. Tentunya Angkot ini adalah alat transportasi alternatif yang diminati oleh kaum pelajar karena harganya yang relatif murah.

Tapi tentunya dibalik sesuatu pasti ada suka dan dukanya, bukan?

Yang saya suka ketika menaiki angkot ini adalah, angkot ini memiliki banyak surprise tak terduga. Pernah suatu kali saya bertemu dengan teman satu SD dulu—and see, I’m so excited about that. Atau, paling tidak bertemu dengan orang-orang yang menarik.

Tapi, tampaknya lebih banyak hal yang saya benci. Yang pertama, apabila menunggu ‘si’ Angkot ini terlalu lama sementara saya sudah dikejar waktu. Kedua, ketika angkot ramai—yang didominasi para pelajar—dan see, saya harus bermandi keringat campuran para pelajar. Ugh.. Atau ketika angkutan sepi peminat, alias hanya sedikit penumpang. Sang supir akan sangat santai menyetir, oke. Kalau sedang tidak terburu-buru mungkin tidak akan menyebalkan. Tapi, apabila saya terburu-buru dan si supir masih dengan woles-nya menyetir sambil nge-tem berlama-lama.. Itu pantas, kan disebut menyebalkan? Atau ketika ada penumpang yang ngomel-ngomel karena angkot nggak jalan? Dan yang paling menyebalkan adalah, ketika saya sebagai penumpang dioper-oper ke angkot lain karena berbagai alasan si supir.

Dari Angkot pula-lah saya belajar banyak hal. Belajar untuk saling tolong menolong, ketika seorang nenek tua renta dengan susah memindahkan dagangannya yang berat untuk dinaikkan ke angkot. Masa iya kita mau duduk diam dan hanya melihat? Tentu enggak dong. Lalu, ketika ada ibu-ibu dengan anak kecil yang rewel.. Ada baiknya kalau kita pasang tampang sok imut, atau paling enggak, ngajakin si adik main Ciluk Ba…

Nggak mau naik Angkot karena gengsi? Wah, gengsi itu rasa yang cukup mengganggu ya. Kalau pengin hemat dan merakyat, Angkot inilah jalannya. Buang jauh-jauh gengsi itu. Daripada nggak dijemput, lebih baik naik Angkot kan?

Yah, sebenernya ini curcol saya sih karena hari ini harus naik tiga Angkot berturut-turut untuk sampai ke rumah. Ngeselin? Iya. Capek? Of course. Tapi, seru juga.

So, jangan gengsi buat naik Angkot ya Guys^^~ Naik angkot itu bukan berarti rakyat jelata yang kamseupay itu kok.. Naik Angkot itu  kayak Menembus Atmosfir Berlapis-lapis.. Meluncur Bareng Paus Akrobatis, Menuju Rasi Bintang Paliiiiing Manis ^__^ 

2 comments:

  1. lumayan menarik...
    ngapain gengsi.. setiap hari aja saya ngangkot.. haha :D

    ReplyDelete
  2. hahaha thx udah read&comment :)))

    ReplyDelete