Halow! Kembali lagi bersama sayaah, di Bali series! Yeaay, dah setengah jalan aja dong.
Cus ya...
Karena saya tipe orang yang kudu adaptasi dulu sama tempat baru, walhasil saya adalah yang terakhir tidur di kamar 204. Pukul setengah enam pagi, saya dibangunkan oleh Monchan, "bangun! Itu mataharinya sudah mau terbit, lho." Saya mengerjap-ngerjapkan mata sembari mengumpulkan nyawa, lantas mengambil air wudhu untuk sholat Subuh yang kesiangan hehehe.
Finally, pada hari itu saya berkesempatan untuk berdandan syantek sebelum jalan-jalan. Nggak literally dandan, sih. At least penampilan saya proper. Yoohoo!
Sarapan di hotel, seperti biasa, mengantre. Kalau study tour tuh, harus siapin stok sabar banyak-banyak. Supaya nggak bete huehehe. Sarapannya lumayan; sate, nugget satu biji (elah-_-), dan kuah gulai tapi isinya kubis WKWKW apaan dah absurd bener. Alhamdulillah abis dong.
Sesudah sarapan, kami langsung ke Pantai Kuta. Ada perubahan itinerary lagi, harusnya Pantai Kuta diletakkan di sore hari, menikmati sunset (serius deh di itinerary ditulis begitu), Eh, dibalik aja tuh jadi pagi hari. Alasannya klise, kalau sore macet :) :) *senyoom*
Dari parkiran bus ke Pantai Kuta-nya sendiri cukup jauh, dan kita perlu naik shuttle bus (AC-nya alami ya, don't expect much) selama 10 menit sebelum sampai ke obyek. Di sana, kami hanya putu-putu syantek aja. Nggak main air. Namun, saya yang mengenakan rok (#UKHTILYFE) dan bertekad untuk tidak kena air pantai, akhirnya basyah jugak. Oh iya, kok belum banyak turis mancanegara ya? Itu sekitar jam 8-9an. Ena juga, liat pemandangan yang nggak ada di Poerwakerta.
Berfoto Syantek
With Frens @ Kuta Beach
Balik ke bus, alas kaki saya penuh pasiiir. Untung bawa tissue basah (buy 1 get 1 lho, merk Cuss*ns). Lanjut ke Tanjung Benoa. Yha, ngepantai muluk hari ini. Jaraknya sekitar 20km dari Kuta, 30 menit ditempuh dengan bus (cmiiw yha frens). Di bus, si
tourguide yang bernama I Gede Banget ini berusaha untuk mencairkan suasana dengan lawakan seperti;
"Di Bali ada kandang burung terbesar di Indonesia. Ada macam-macam burung di dalamnya, dan ada pula orang yang dibayar untuk menjaga kandang burung tersebut."
I was like, 'kok gw gak pernah denger yah?'
Turned out that yang dimaksud beliau adalah
Bandara Ngurah Rai. Damn, I almost fell for his lame jokes. /Deep sighs/ Dan my
busmate, Monchan, langsung bete tuh sama beliau, hahaha.
Buat masuk ke Tanjung Benoa-nya tuh, jauh beneeer. Sempat juga melewati gerai sbux, dan teman saya sempat ada yang mau melipir ke sana, namun nggak jadi karena jaraknya jauh ternyata. Panas buanget di sana, gimana kalau di Padang Mahsyar ya? Itu aja sudah berasa matahari berada di atas kepala.
Tourguide-nya juga bercerita bahwasannya dahulu, Tanjung Benoa adalah sebuah antah berantah. Dan Garuda Indonesia adalah pihak pertama yang berinvestasi di situ. Luas Tanjung Benoa sendiri yakni 300 sekian hektar, Jadilah Tanjung Benoa yang famous seperti sekarang ini, dengan berbagai fasilitas yang dapat ditawarkan kepada turis seperti banana-boat, parasailing, wisata ke Pulau Penyu, atau hanya duduk-duduk menikmati kelapa muda juga asyik.
Saya sendiri memilih untuk berwisata ke Pulau Penyu, atau yang disebut dengan Teluk Penyu. Kami hanya perlu membayar ongkos pulang-pergi perahu sebesar IDR 50K, dan untuk masuknya sebesar IDR 5K. Kita putu-putu deh sama si penyu dari berbagai ukuran. Nggak hanya penyu, ada juga eagle, kakaktua, biawak, dan lain-lain.
 |
| Ondewei Pulau Penyu, ini si Rini sebelah kanan saya sepertinya kegirangan bisa menyentuh air laut wkwkwk. |
 |
| Ini lho penampakan penyu-penyu rakzaza. Mancay! Boleh dipegang-pegang jugak, diajak foto juga oke^^ |

Karena perahunya nggak sampai tepat di pulaunya, kami harus jalan sedikit. Nemu rumput laut! Horray! |
 |
| Ini yang paling guedeeee |
 |
| Nggak siap foto, cekrek! |
 |
| Ini foto nggak ada faedahnya sih, itu belakang patung penyu btw |
 |
| Ama kakaktua! |
 |
| Iguanaaaa |
 |
| Pemandangannya menyejukkan ya? |
 |
| Hasil jepretan saya, oke jugaa. |
 |
Lumayan jalannya, lumayan bikin basyah!
|
Kelar di pulau penyu, akhirnya kami ngantre makan. Tapi karena saya betenya minta ampun, saya memotong antrean! HAHAHA. Maapin yak *sungkem* di sini, kami berkesempatan untuk mencoba sate lillit, sayangnya saya nggak suka hohoho. Nah terus, di situ tuh ada 2 tempat untuk makan yang dibatasi dengan tali. Karena jam makan siang, otomatis rame banget dong. Dan finally dapat tempat kosong, tapi malah dibilangin sama si tourleadernya, "jangan makan di sini ya." Maksudnya dia mau ngebook gitu. Dih, enak aja. Akhirnya guru-guru saya pun bilang, "nggak papa makan sini aja." Dongkol maksimal.
Lanjut, kita sholat di Puja Mandala Bakti. Musim liburan bok, rame bener di situ. Cari tempat sholat yang lain bisa kali. Mungkin maksudnya biar kita berkesempatan untuk mengunjungi PMB. Tapi yo, mbok ya nggak gitu juga. FYI, PMB itu adalah sebuah tempat di mana terdapat beragam tempat ibadah. Untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama. Setahu saya begitu. Ada masjid, gereja kristen, gereja katolik, pura (tentu saja) dan vihara. Mau sholat, welahdalah, airnya malah habis.
Akhirnya saya punya ide untuk ke minimarket terdekat dan numpang toiletnya untuk wudhu (sambil beli apa gitu ya, buat pantas-pantas) dan akhirnya sholat.
The next destination is Pandawa Beach. The most beautiful beach I've ever seen! Like, it is literally beautiful. Instead of Kuta, I'd recommend you to go to Pandawa. Sebelum sampai, kita bahkan sudah disuguhi pemandangan tebing-tebing yang eksotis abis. Anyway, Pandawa ini adalah pantai berpasir putih, dan airnya pun biru kejernihan. Fasilitas di sini hanya ada kano dan
massage sih, tapi buat foto-foto aja juga udah oke.
 |
| Pardon my komuk. Itu lho tebing-tebing yang saya maksud... |
 |
| Pasyir putih. Ini kalo gw masukin ig captionnya apa ya, hm.. |
 |
| Pardon my komuk (2) Ini kanonyaaa. 50 ato 75k gitu |
 |
| Ceritanya pose malu-maluin yang dipelopori oleh Saudara Rizal |
Jam 5 lebih 5 sore, karena nungguin teman-teman yang berkano dan ganti baju and
things(?) jadi ngaret deh seperti biasah. Trus kita lanjut ke GWK (Garuda Wisnu Kencana) kita akan menonton tari kecak di sana, yuhuu. Dari Pandawa sampai GWK sekitar 30menitan btw. Setelah sampai, kita dijemput oleh
shuttle (kali ini beneran menyerupai
shuttle) sebenernya nggak jauh-jauh amat sih, jalan juga bisa. Masuk, kita foto-foto dong langsung!
 |
| Sama Telisya. Ucul yaa huehehe |
 |
| Foto sama ojones. Banyak banget orang bikin pusying |
 |
| Dari kiri ke kanan: Ajeng, Monchan, Litta, Vani, Rini. Bonus tourleader di belakang noh |
 |
| Finally, get to see Kecak Dance! |
 |
| Main actorsnyaaa |
 |
| Poto ama si cantik. Btw itu komuk gw wkwkwk. |
Oya, di GWK ini jajannya mahal-mahal pisun. Masak sirup marjan melon yang di-cup-in (bilangnya sih jus gitu ya) 15K huhuhuh monang untung gak beli. Trus teman saya juga beli sejenis crepes gitu, 25K hohoho *kekep dompet erat erat*
Sekitar jam 6 petang waktu setempat, tari kecaknya mulai. Sebelumnya, penarinya juga ritual dulu keliling GWK, entah maksudnya apa ya, saya kurang tahu.
Kemudian, obor-obor pun dinyalakan, suara "cak kecak kecak cak" mulai bersahutan,
Eh ada
dancer yang guanteng lho wkwkw.
Well, it's a must to see Kecak Dance when you're in Bali, so amazing and mesmerizing. Got me chill! Sekitar 30-45 menit kemudian, tari kecaknya selesai.
Abis nonton tari kecak, kita cus ke Krisna, muacet puol otw kesananya tuh. Saya langsung kontak-kontak keluarga, mau dibelikan apa.
Akhirnya, petualangan yang sebenarnya dimulai.
Yey! Belanja belanji! Saya cari kaos-kaos, tas kecil, sandal, pie susu (btw tadi ada yang jual pie susu di Pandawa dan lebih murah *sobs*), kacang asin, gitu-gitu deh. Di sini, kita juga ditempeli stiker, tapi sesuai rombongan gitu (biar ga ilang kali yak). Kelar menunaikan kewajiban (re: belanja), makan di Krisna juga, dan lanjut ke hotel, lanjut mandi, sholat, tata-tata koper (karena besoknya kita check out huhuhu). Saya bertiga, dengan Monchan dan Litta, nggak langsung bobok. Kami ngakak-ngikik ngalor ngidul, kasihan Een yang udah tidur kebrisikan wkwk. Oya! Kita juga menemukan fakta menarik lhooo, bahwasannya, tourleader bus kita ternyata tuh seumuran! Jadi bahan obrolan deh. Si Litta ngefans banget tuh ama doi. Tapi bilangnya sekarang dah move on sih wkwk. Kita akhirnya baru tidur setelah pukul 01.30 A.M.
Zzzz...
Jadi kangen pantai pandawa... full of moment :D
ReplyDeleteIndah banget yaa, padahal itu lagi ramai. Coba kalau sepi :D
Deletewah asyikk banget jadi mupeng ke sana
ReplyDeleteHayuk ke Bali! Nggak bakal nyesel hehe
Deletebelum sempat melihat penangkaran penyu.. sama yang ke daerah dimana kalau ada yang meninggal tidak dikubur,.. tapi dibiarkan diatas tanah ... (saya lupa nama daaerahnya)
ReplyDeletewah, saya malah baru dengar. Semoga lain waktu dapat berkunjung ke tempat penangkaran penyunya yaa :)
Delete